Setapak Langkah – 11 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah kembali berada di tekanan berat, mencatat level Rp 17.951 per 1 dolar Amerika Serikat pada sesi perdagangan hari ini. Kurs ini menandakan pelemahan yang berkelanjutan sejak beberapa minggu terakhir, meski ada upaya dari otoritas untuk menstabilkannya.
Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah meluncurkan serangkaian kebijakan guna memperkuat likuiditas pasar dan mendorong aliran investasi asing. Langkah-langkah utama meliputi:
- Penyediaan likuiditas tambahan melalui operasi pasar terbuka.
- Peningkatan suku bunga acuan untuk menahan arus keluar modal.
- Penguatan koordinasi dengan lembaga keuangan internasional untuk memastikan aliran modal yang stabil.
Selain kebijakan moneter, Kemenkeu juga menekankan pentingnya reformasi struktural dan peningkatan iklim investasi dalam rangka menstabilkan nilai tukar. Upaya tersebut diharapkan dapat menurunkan volatilitas dan memperkuat kepercayaan investor.
Namun, faktor eksternal seperti kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat, serta sentimen pasar global yang masih berhati-hati, tetap memberikan tekanan pada rupiah. Penguatan dolar AS secara global dapat memperparah tekanan depresiasi rupiah jika tidak diimbangi dengan kebijakan domestik yang efektif.
Para analis memperkirakan bahwa bila BI dan Kemenkeu dapat menjaga arus likuiditas serta menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif, rupiah berpotensi stabil di kisaran 17.500‑17.800 per dolar dalam jangka menengah. Sebaliknya, jika tekanan eksternal meningkat, rupiah dapat kembali turun ke level di atas 18.000.
Secara keseluruhan, situasi nilai tukar rupiah saat ini mencerminkan tantangan kombinasi antara dinamika pasar global dan kebijakan domestik. Upaya berkelanjutan dari otoritas keuangan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.