Setapak Langkah – 13 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah pada Selasa, 12 Mei 2024, berakhir pada level Rp 17.529 per dolar Amerika, mencatat pelemahan dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan mata uang ini terjadi di tengah sorotan pasar terhadap eskalasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran serta data ekonomi terbaru dari AS.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan tersebut antara lain:
- Ketegangan geopolitik: Ancaman konflik antara AS dan Iran menimbulkan ketidakpastian global, mendorong investor beralih ke aset safe‑haven seperti dolar AS.
- Data ekonomi AS: Rilis data inflasi dan tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan dolar.
- Aliran modal internasional: Ketidakstabilan geopolitik mengakibatkan aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menambah tekanan pada rupiah.
Berikut ini ringkasan nilai tukar rupiah selama lima sesi perdagangan terakhir:
| Tanggal | Kurs (Rp/USD) |
|---|---|
| 8 Mei 2024 | Rp 17.380 |
| 9 Mei 2024 | Rp 17.410 |
| 10 Mei 2024 | Rp 17.445 |
| 11 Mei 2024 | Rp 17.492 |
| 12 Mei 2024 | Rp 17.529 |
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan. Namun, BI juga mencatat bahwa faktor eksternal, khususnya situasi politik di Timur Tengah dan kebijakan moneter AS, tetap menjadi risiko utama bagi pergerakan rupiah ke depan.
Para analis memperkirakan bahwa selama ketegangan AS‑Iran belum mereda dan data ekonomi AS tetap menunjukkan kekuatan, rupiah kemungkinan akan berada di kisaran Rp 17.500‑Rp 17.800 per dolar. Di sisi lain, jika situasi geopolitik membaik atau kebijakan moneter AS melonggarkan, rupiah berpotensi menguat kembali.
Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan diplomasi antara Washington dan Tehran serta rilis data ekonomi utama AS, seperti inflasi CPI dan non‑farm payroll, sebagai indikator utama arah pergerakan nilai tukar ke depan.