Setapak Langkah – 13 Mei 2026 | Rupiah menutup sesi perdagangan hari ini pada level Rp 17.529 per dolar Amerika Serikat, menandai pelemahan lebih lanjut setelah menembus zona Rp 17.500 sebelumnya. Penurunan nilai tukar ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran, yang menambah kecemasan pelaku pasar terhadap arus modal luar negeri.
Bank Indonesia (BI) menanggapi pergerakan tersebut dengan menyiapkan langkah intervensi di pasar valuta asing. Menurut sumber internal, BI bekerja sama dengan Purbaya, sebuah institusi keuangan, untuk melakukan intervensi mulai besok. Tujuan utama intervensi adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan aliran modal asing tetap terjaga.
Berikut beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah:
- Kekhawatiran atas eskalasi konflik antara AS dan Iran yang dapat memicu volatilitas pasar global.
- Penurunan permintaan mata uang asing di pasar domestik akibat ketidakpastian ekonomi.
- Kebijakan moneter global, termasuk keputusan suku bunga The Federal Reserve yang masih berada pada level tinggi.
- Aliran keluar modal asing yang dipicu oleh persepsi risiko yang meningkat.
Bank Indonesia diperkirakan akan menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan nilai tukar, sambil terus memantau perkembangan geopolitik dan kondisi likuiditas di pasar domestik. Intervensi ini diharapkan dapat menahan tekanan jual rupiah dan memberi ruang bagi kebijakan moneter dalam jangka menengah.
Para analis memperkirakan bahwa jika ketegangan antara AS dan Iran tidak mereda, rupiah dapat kembali menguji level Rp 17.600 per dolar. Sebaliknya, keberhasilan intervensi dan perbaikan sentimen investor dapat membantu mengembalikan nilai tukar ke kisaran Rp 17.300–17.400.