Setapak Langkah – 24 April 2026 | Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya. Penilaian ini dibuat di tengah tekanan geopolitik global yang memicu volatilitas pasar valuta asing.
Faktor-faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah
- Pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS yang meningkatkan daya tarik dolar.
- Ketegangan geopolitik di kawasan Asia‑Pasifik yang meningkatkan persepsi risiko.
- Aliran modal asing yang bersifat spekulatif dan beralih ke aset safe‑haven.
- Kondisi inflasi domestik yang masih berada di atas target jangka menengah.
Strategi Bank Indonesia untuk penguatan rupiah
BI berencana mengoptimalkan beberapa instrumen kebijakan, antara lain:
- Intervensi di pasar spot dan forward untuk menstabilkan nilai tukar.
- Penyesuaian suku bunga acuan bila diperlukan untuk menyeimbangkan arus modal.
- Peningkatan cadangan devisa sebagai buffer terhadap guncangan eksternal.
- Penguatan kerangka kebijakan makroprudensial untuk mengendalikan aliran modal spekulatif.
Proyeksi nilai tukar
| Periode | Kurs USD/IDR (penutupan) | Nilai Fundamental (perkiraan) |
|---|---|---|
| Q1 2024 | 15.300 | 15.100 |
| Q2 2024 | 15.250 | 15.050 |
| Q3 2024 | 15.200 | 15.000 |
Data di atas menunjukkan selisih antara nilai pasar dan perkiraan nilai fundamental, yang mengindikasikan adanya ruang bagi rupiah untuk menguat jika kebijakan yang tepat diterapkan.
Dengan menggabungkan langkah intervensi pasar, penyesuaian suku bunga, dan pengelolaan cadangan devisa, BI berharap dapat meredam dampak negatif geopolitik sekaligus memanfaatkan undervaluation untuk memperkuat posisi rupiah di pasar internasional.