Setapak Langkah – 31 Maret 2026 | Ratusan warga Israel melancarkan aksi demonstrasi menolak keterlibatan militer negara mereka dalam perang melawan Iran pada Sabtu malam (28/3/2026). Aksi yang berlangsung simultan di tiga kota utama—Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem—menyentak kebijakan pemerintah yang tengah mengumumkan operasi militer bersama Amerika Serikat, dikenal sebagai Operation Roaring Lion.
Latihan Penangkapan dan Bentrokan
Polisi keamanan Israel menanggapi kerumunan yang dianggap melanggar peraturan darurat nasional. Pemerintah telah melarang pertemuan publik yang melibatkan lebih dari 50 orang untuk mengantisipasi ancaman rudal balasan dari Iran maupun Lebanon. Namun, aparat keamanan menegaskan bahwa tindakan penangkapan 18 demonstran merupakan upaya menegakkan ketertiban umum.
Penangkapan terbesar terjadi di Lapangan Habima, Tel Aviv, dimana 13 orang ditahan. Lima pengunjuk rasa lainnya diamankan di persimpangan Horev, Haifa. Menurut laporan saksi mata, petugas kepolisian menggunakan kekerasan fisik, termasuk mendorong demonstran hingga terjatuh dan menekan satu peserta aksi hingga tercekik.
Motivasi dan Suara Pengunjuk Rasa
Para demonstran menolak perang dengan alasan bahwa konflik tidak memiliki tujuan yang jelas dan menambah beban bagi warga sipil. Salah satu pengunjuk rasa, Joanne Levine, mengkritik keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai bagian dari “rencana permainan politik”. Organisasi‑organisasi aktivis seperti Standing Together, Peace Now, dan Women Wage Peace turut menggelar aksi, menyoroti kekhawatiran akan meningkatnya represifitas terhadap kebebasan bersuara di tengah status darurat.
Data Survei Opini Publik
Survei yang dilakukan oleh Institut Demokrasi Israel mengungkapkan perbedaan tajam dalam sikap masyarakat terhadap perang:
- 78 % warga Yahudi mendukung intervensi militer terhadap Iran.
- Hanya 19 % warga minoritas Arab yang menyatakan dukungan, dengan tren penolakan yang terus meningkat.
Data ini menegaskan adanya polarisasi yang mendalam, dimana sebagian besar warga Yahudi mempercayai kebijakan keamanan pemerintah, sementara kelompok minoritas menunjukkan keengganan yang kuat terhadap eskalasi konflik.
Konteks Konflik Iran‑Israel‑AS
Perang antara Iran dan koalisi AS‑Israel telah memasuki hari ke‑31 pada 30 Maret 2026. Serangan udara gabungan menargetkan infrastruktur listrik dan militer di beberapa kota Iran, sementara Iran terus melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan negara‑negara Teluk yang menjadi basis militer Amerika Serikat. Jumlah korban tewas di Iran telah melampaui 2.000 jiwa sejak permulaan konflik pada akhir Februari.
Di tengah intensitas pertempuran, protes di dalam negeri Israel mencerminkan ketegangan antara kebijakan luar negeri yang agresif dan keinginan sebagian warga untuk menghindari perang yang berpotensi menimbulkan kerugian manusiawi yang lebih besar.
Reaksi Pemerintah dan Organisasi Hak Asasi
Pemerintah menegaskan bahwa larangan pertemuan massal bersifat sementara dan diperlukan untuk melindungi warga dari ancaman serangan rudal. Namun, perwakilan koalisi Peace Partnership menolak argumentasi tersebut, menyatakan bahwa “polisi di negara demokrasi harus melindungi hak untuk berdemonstrasi, bukan menindasnya”.
Pengamat keamanan menilai bahwa tindakan keras terhadap demonstran dapat memicu gelombang protes lebih luas, terutama bila situasi militer terus berlarut tanpa tanda-tanda penyelesaian damai.
Secara keseluruhan, aksi protes menolak perang melawan Iran menyoroti dilema antara kebijakan keamanan nasional dan kebebasan sipil di Israel. Ketegangan ini diperkirakan akan terus berlanjut selama konflik di wilayah tersebut belum menemukan titik akhir.