Setapak Langkah – 31 Juli 2026 | Bank Indonesia memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, akan berada dalam kisaran Rp 18.110 hingga Rp 18.160 per USD. Pergerakan ini menandakan tren melemah yang bersifat fluktuatif, dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik dan internasional.
Berikut ini adalah faktor‑faktor utama yang diproyeksikan memengaruhi arah nilai tukar:
- Sentimen kebijakan The Federal Reserve (The Fed): Kebijakan suku bunga yang ketat atau ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dapat menguatkan dolar, menekan rupiah.
- Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia: Data pertumbuhan GDP yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan risiko penurunan kepercayaan investor.
- Harga komoditas, khususnya minyak mentah: Fluktuasi harga minyak berimbas pada neraca perdagangan dan arus devisa.
- Inflasi domestik: Tekanan inflasi yang terus tinggi dapat memaksa Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi, memengaruhi likuiditas pasar valuta.
- Arus modal asing: Perubahan aliran investasi portofolio dan aliran dana asing dapat mempercepat pergerakan nilai tukar.
Berikut adalah proyeksi nilai tukar yang diringkas dalam tabel:
| Rentang | Nilai (per USD) |
|---|---|
| Prediksi terendah | Rp 18.110 |
| Prediksi tertinggi | Rp 18.160 |
Jika rupiah melemah hingga batas atas perkiraan, konsumen dapat merasakan kenaikan harga barang impor, terutama produk elektronik dan kebutuhan pokok yang dipengaruhi oleh biaya bahan baku luar negeri. Sektor eksportir, terutama komoditas agrikultur, dapat memperoleh keuntungan dari nilai tukar yang lebih lemah.
Bank Indonesia menegaskan kesiapan untuk melakukan intervensi pasar bila diperlukan, termasuk penyesuaian suku bunga acuan atau operasi pasar terbuka untuk menstabilkan nilai tukar. Namun, kebijakan tersebut akan dijalankan dengan memperhatikan keseimbangan antara menjaga inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Investor dan pelaku usaha disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan moneter The Fed, data inflasi CPI Indonesia, serta laporan neraca perdagangan mingguan sebagai indikator utama pergerakan nilai tukar ke depan.