Setapak Langkah – 10 Mei 2026 | Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan baru-baru ini, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menegaskan bahwa meskipun banyak negara di dunia sedang mengalami kepanikan akibat krisis global, Indonesia tetap berada dalam posisi yang stabil karena telah mencapai swasembada pangan.
Prabowo menyoroti bahwa ketahanan pangan negara kini tidak hanya bergantung pada impor, melainkan didukung oleh peningkatan produksi dalam negeri yang mencakup beras, jagung, kedelai, dan komoditas penting lainnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah menetapkan target untuk mencapai swasembada energi dalam waktu dekat, sehingga ketergantungan pada energi luar negeri dapat diminimalisir.
Berikut beberapa data terbaru yang menunjukkan kemajuan Indonesia dalam bidang ketahanan pangan:
| Komoditas | Produksi Nasional (juta ton) | Kebutuhan Nasional (juta ton) | Status |
|---|---|---|---|
| Beras | 35,0 | 34,5 | Swasembada |
| Jagung | 29,0 | 28,5 | Swasembada |
| Kedelai | 10,5 | 14,0 | Masih Impor |
| Minyak Sawit | 42,0 | 40,5 | Swasembada |
Data menunjukkan bahwa beras, jagung, dan minyak sawit sudah berada pada posisi swasembada, sementara kedelai masih memerlukan impor untuk menutup selisih kebutuhan. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi kedelai melalui program intensifikasi pertanian dan peningkatan lahan yang produktif.
Selain pangan, Prabowo menekankan bahwa sektor energi juga menjadi prioritas. Rencana pemerintah mencakup pengembangan energi terbarukan, peningkatan kapasitas pembangkit listrik domestik, serta pemanfaatan sumber daya energi fosil secara efisien untuk menurunkan impor energi.
Dengan kebijakan yang terintegrasi antara ketahanan pangan dan energi, Prabowo optimis Indonesia dapat tetap tenang meski kondisi global masih tidak menentu. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung upaya swasembada agar negara tidak terpengaruh oleh fluktuasi pasar internasional.