Setapak Langkah – 07 Mei 2026 | Rupiah mengalami pelemahan akhir-akhir ini, namun analis ekonomi Surya Vandiantara menegaskan bahwa penyebab utama tidak berasal dari kondisi domestik. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, dengan neraca perdagangan yang mencatat surplus dan profil utang publik yang terkelola dengan baik hingga tahun 2026.
Beberapa poin penting yang dijelaskan antara lain:
- Neraca perdagangan surplus: Ekspor terus mendominasi impor, menghasilkan surplus yang membantu menstabilkan aliran devisa.
- Utang luar negeri dalam batas aman: Pemerintah berhasil menjaga rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di level yang dapat dikelola, sehingga tidak menimbulkan tekanan signifikan pada nilai tukar.
- Kebijakan moneter yang konsisten: Bank Indonesia mempertahankan suku bunga pada level yang mendukung kestabilan inflasi dan memperkuat kepercayaan pasar.
Dengan faktor-faktor di atas, daya beli masyarakat diperkirakan tetap terjaga meski nilai tukar rupiah mengalami penurunan sementara. Surya menambahkan bahwa tekanan eksternal, seperti pergerakan dolar global dan sentimen pasar internasional, berperan lebih dominan dalam memengaruhi nilai tukar.
Ia menekankan pentingnya pemantauan kebijakan eksternal serta menjaga likuiditas pasar untuk menghindari volatilitas yang berlebihan. Selama kebijakan fiskal dan moneter tetap terkoordinasi, risiko dampak signifikan terhadap konsumsi rumah tangga dapat diminimalisir.