Setapak Langkah – 28 Maret 2026 | Jakarta, 28 Maret 2026 – Xiaomi Corp., raksasa teknologi asal Tiongkok, mencatat lonjakan penjualan mobil listrik (EV) yang luar biasa pada kuartal pertama 2026. Volume penjualan meningkat 200 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mendorong total pendapatan grup naik menjadi Rp1,803 triliun. Pencapaian ini menegaskan peran strategis kendaraan listrik dalam portofolio bisnis Xiaomi yang selama ini dikenal dengan produk smartphone dan ekosistem Internet of Things (IoT).
Lonjakan Penjualan yang Spektakuler
Data internal Xiaomi mengungkap bahwa unit Xiaomi EV yang terjual pada Januari‑Maret 2026 mencapai 1,5 juta unit, tiga kali lipat dari 0,5 juta unit pada kuartal pertama 2025. Pertumbuhan ini dipicu oleh peluncuran model terbaru, Xiaomi Mira 3 dan Mira Pro, yang menawarkan kombinasi desain premium, teknologi baterai berkapasitas tinggi, serta integrasi penuh dengan ekosistem MIUI.
- Model Mira 3: jarak tempuh 550 km, pengisian cepat 0‑80% dalam 15 menit.
- Model Mira Pro: dilengkapi sistem bantuan mengemudi tingkat tinggi (ADAS) dan layar infotainment 15,6‑inch.
Kedua model ini dipasarkan dengan strategi harga kompetitif, mulai dari Rp250 jutaan, yang menempatkannya di tengah segmen menengah‑atas pasar EV Asia Tenggara.
Dampak Terhadap Pendapatan Grup
Dengan kontribusi penjualan EV yang signifikan, pendapatan Xiaomi pada kuartal pertama 2026 mencapai Rp1,803 triliun, naik 18 persen secara tahunan. Laba bersih dari divisi otomotif tercatat Rp2 triliun, menandai pertama kalinya Xiaomi memperoleh laba positif dari lini kendaraan listriknya sejak peluncuran pertama pada 2023.
Segmen lain, seperti smartphone dan smart home, tetap memberikan dukungan stabil, namun pertumbuhan ganda digit di sektor EV menjadi pendorong utama peningkatan profitabilitas grup. Analisis internal memperkirakan bahwa kontribusi EV terhadap total pendapatan dapat mencapai 35 persen pada akhir 2026.
Strategi Pasar dan Ekspansi Global
Xiaomi menargetkan ekspansi agresif ke pasar India, Eropa, dan Amerika Latin. Pada akhir 2025, pabrik perakitan pertama di luar Tiongkok dibuka di Bangalore, India, dengan kapasitas produksi tahunan 500.000 unit. Pabrik ini memanfaatkan jaringan pemasok lokal untuk baterai lithium‑ion, mengurangi biaya logistik dan meningkatkan kecepatan distribusi.
Di Eropa, Xiaomi menandatangani MoU dengan perusahaan energi terbarukan untuk membangun jaringan pengisian cepat berstandar CCS di 12 negara, memastikan pengalaman kepemilikan yang mulus bagi konsumen. Di Amerika Latin, fokus awal ditujukan pada Brazil dan Meksiko, di mana regulasi pemerintah mendukung adopsi kendaraan listrik melalui insentif pajak.
Inovasi Teknologi dan Keunggulan Kompetitif
Keberhasilan Xiaomi EV tak lepas dari investasi besar‑besar dalam riset dan pengembangan (R&D). Divisi mobil listrik mengalokasikan lebih dari 10 persen pendapatan tahunan untuk R&D, mencakup bidang baterai solid‑state, kecerdasan buatan untuk pengenalan pola mengemudi, serta integrasi layanan cloud MI Cloud yang memungkinkan pembaruan OTA (over‑the‑air) secara real‑time.
Selain itu, Xiaomi memanfaatkan ekosistem IoT yang sudah terintegrasi di rumah‑konsumen, memungkinkan sinkronisasi antara mobil, perangkat pintar, dan layanan digital. Contohnya, pengguna dapat mengontrol suhu dalam mobil melalui aplikasi Mi Home sebelum tiba di kantor, atau mengatur pengisian daya secara otomatis berdasarkan tarif listrik off‑peak.
Persaingan dan Tantangan Kedepan
Pasar EV global semakin kompetitif, dengan pemain tradisional seperti Tesla, BYD, serta produsen baru seperti Nio dan Rivian. Xiaomi harus terus berinovasi untuk mempertahankan margin dan pangsa pasar. Tantangan utama meliputi ketersediaan bahan baku baterai, fluktuasi nilai tukar, serta regulasi lingkungan yang semakin ketat di berbagai negara.
Untuk mengatasi risiko tersebut, Xiaomi mengembangkan strategi diversifikasi rantai pasokan, termasuk kerjasama dengan produsen nikel di Indonesia dan Australia, serta investasi dalam teknologi daur ulang baterai yang ramah lingkungan.
Secara keseluruhan, pertumbuhan penjualan yang meledak 200 persen dan pendapatan mencapai Rp1,803 triliun menandai transformasi Xiaomi dari perusahaan elektronik konsumen menjadi pemain utama di industri mobil listrik. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan profitabilitas, tetapi juga memperkuat posisi Xiaomi sebagai inovator teknologi yang mampu merambah pasar baru dengan cepat dan efisien. Dengan rencana ekspansi global, fokus pada inovasi baterai, serta integrasi ekosistem IoT, Xiaomi diproyeksikan akan terus memperkuat jejaknya di arena EV selama dekade berikutnya.