Setapak Langkah – 04 Agustus 2026 | Sejumlah insinyur biomedis dari universitas terkemuka di Australia berhasil menciptakan sebuah sensor cahaya yang sepenuhnya fleksibel, dirancang khusus untuk memantau aktivitas jantung dan otak secara real‑time. Sensor ini menggunakan prinsip fotopletismografi (PPG) yang memancarkan dan mendeteksi cahaya untuk mengukur perubahan volume darah di pembuluh, sekaligus menilai sinyal listrik otak melalui modul optik‑elektrokardiografik terintegrasi.
Berbeda dengan sensor konvensional yang kaku dan membutuhkan pemasangan yang rumit, perangkat baru ini terbuat dari bahan polimer elastomerik yang dapat melengkung mengikuti kontur kulit, bahkan dapat dipasang pada area yang sangat sensitif seperti dada atau pelipis tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman. Teknologi ini memungkinkan pemantauan berkelanjutan selama berjam‑jam tanpa mengganggu aktivitas sehari‑hari.
- Fleksibilitas tinggi: Bahan tipis dan elastis menyesuaikan diri dengan gerakan tubuh.
- Resolusi sinyal: Deteksi perubahan denyut jantung hingga 1 bpm dan gelombang otak dengan akurasi klinis.
- Portabilitas: Daya tahan baterai hingga 24 jam pada mode pemantauan kontinu.
- Non‑invasif: Tidak memerlukan kontak langsung dengan jaringan internal, mengurangi risiko infeksi.
Para peneliti menguji sensor pada sukarelawan sehat dan pasien dengan kondisi kardiovaskular ringan. Hasil awal menunjukkan korelasi yang kuat antara data yang dihasilkan sensor optik dengan hasil elektrokardiogram (EKG) dan elektroensefalogram (EEG) tradisional, sekaligus menawarkan kelebihan berupa kenyamanan dan kemampuan pemantauan jangka panjang.
Pengembangan ini memiliki implikasi signifikan bagi bidang telemedicine dan perawatan jarak jauh. Dengan kemampuan mengirimkan data secara nirkabel ke platform cloud, dokter dapat memantau kondisi pasien secara real‑time, mempercepat deteksi dini komplikasi seperti aritmia atau kejang, serta menyesuaikan terapi secara dinamis.
Meski prospek komersialisasinya menjanjikan, tim riset masih menghadapi tantangan terkait skala produksi massal, keamanan data, dan regulasi medis di berbagai negara. Selanjutnya, mereka berencana melakukan uji klinis berskala lebih luas dan mengintegrasikan algoritma kecerdasan buatan untuk analisis prediktif yang lebih akurat.