Setapak Langkah – 24 Juni 2026 | Pasar modal Indonesia semakin terbuka pada integrasi teknologi blockchain, sebuah upaya yang bertujuan menyatukan sistem keuangan tradisional dengan infrastruktur digital terdesentralisasi.
Beberapa lembaga keuangan dan bursa efek telah memulai pilot project untuk men-tokenisasi sekuritas, memperkenalkan konsep aset digital yang dapat diperdagangkan secara real‑time dengan transparansi yang lebih tinggi.
Manfaat utama yang diharapkan antara lain:
- Peningkatan efisiensi proses settlement hingga satu hari kerja.
- Pengurangan biaya intermediasi melalui smart contract.
- Keamanan data yang lebih kuat berkat enkripsi kriptografi.
- Kemudahan akses bagi investor ritel melalui platform berbasis blockchain.
Berikut adalah perbandingan singkat antara proses tradisional dan proses berbasis blockchain:
| Aspek | Tradisional | Blockchain |
|---|---|---|
| Waktu settlement | 2‑3 hari kerja | Beberapa menit hingga 1 jam |
| Biaya transaksi | Ribuan rupiah per lot | Beberapa ratus rupiah (tergantung gas fee) |
| Transparansi | Terbatas pada laporan internal | Terbuka dan dapat diverifikasi publik |
Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia juga tengah merumuskan regulasi yang menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan investor. Kebijakan ini mencakup persyaratan kepatuhan anti‑pencucian uang (AML) serta standar keamanan siber untuk platform berbasis blockchain.
Di sisi lain, tantangan masih tetap ada. Skalabilitas jaringan, fluktuasi nilai token, serta kebutuhan edukasi bagi pelaku pasar menjadi fokus utama untuk memastikan adopsi yang berkelanjutan.
Dengan dukungan regulasi yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, integrasi blockchain ke dalam pasar modal diharapkan dapat membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.