Setapak Langkah – 08 April 2026 | Nyak Sandang, tokoh senior asal Aceh yang dikenal atas peran pentingnya dalam pendanaan pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, resmi meninggal pada usia seratus tahun. Kepergiannya menandai akhir perjalanan hidup seorang patriot yang turut mengukir sejarah penerbangan militer Indonesia.
Born pada awal abad ke-20 di daerah Aceh, Nyak Sandang tumbuh dalam lingkungan yang sarat semangat perjuangan melawan penjajahan. Selama masa Revolusi Nasional, ia aktif dalam jaringan sosial‑ekonomi yang mendukung upaya kemerdekaan, termasuk menggalang dana untuk kebutuhan militer.
Pada awal 1950-an, pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memperkuat angkatan udara yang masih sangat terbatas. Pada saat itu, sebuah pesawat tipe Douglas DC‑3 (yang kemudian dikenal sebagai Currey) dibeli untuk menjadi tulang punggung transportasi militer. Nyak Sandang bersama sejumlah dermawan lainnya menyumbangkan sejumlah dana penting yang memungkinkan transaksi tersebut selesai.
- Jumlah sumbangan yang diperkirakan mencapai ratusan ribu rupiah pada masa itu.
- Kontribusi tersebut mempercepat proses akuisisi pesawat, yang kemudian menjadi aset strategis dalam operasi militer dan bantuan kemanusiaan.
- Keberanian dan kemurahan hati Nyak Sandang menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam semangat kebangsaan.
Kematian Nyak Sandang disampaikan oleh keluarga terdekatnya, yang menegaskan bahwa beliau meninggal dalam keadaan tenang di rumahnya, dikelilingi oleh anak cucu. Upacara pemakaman dijadwalkan berlangsung secara sederhana, sesuai dengan kepribadiannya yang rendah hati.
Warisan Nyak Sandang tidak hanya tercatat dalam catatan sejarah penerbangan, tetapi juga dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh sebagai contoh kepedulian terhadap bangsa. Semangat gotong‑royong yang ia tunjukkan tetap menjadi nilai penting dalam pembangunan nasional.