Setapak Langkah – 11 Agustus 2026 | Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, menyoroti potensi ancaman siber yang muncul seiring dengan kemajuan komputasi kuantum. Menurutnya, teknologi ini dapat mengubah cara kriptografi tradisional bekerja, sehingga menimbulkan risiko kebocoran data penting bila tidak diantisipasi.
Komputasi kuantum memiliki kemampuan memproses informasi dengan kecepatan yang jauh melampaui komputer klasik. Dalam konteks keamanan siber, kemampuan tersebut dapat memecahkan algoritma enkripsi yang selama ini dianggap aman, seperti RSA dan ECC. Jika penyerang berhasil memanfaatkan komputer kuantum, mereka dapat mengakses komunikasi rahasia, data keuangan, dan informasi pribadi secara massal.
Nezar menekankan bahwa pemerintah harus segera menyiapkan kebijakan dan infrastruktur yang mampu menghadapinya. Beberapa langkah yang diusulkan meliputi:
- Pengembangan standar kriptografi pasca-kuantum yang dapat menggantikan algoritma lama.
- Pelatihan tenaga ahli keamanan siber dalam teknologi kuantum.
- Kolaborasi dengan lembaga penelitian internasional untuk memantau perkembangan teknologi.
- Audit keamanan pada sistem kritis secara berkala.
Selain itu, kementerian berencana meningkatkan investasi pada riset dan pengembangan (R&D) domestik agar Indonesia dapat menjadi pemain aktif dalam arena komputasi kuantum. Dengan demikian, negara tidak hanya terhindar dari ancaman, melainkan juga dapat memanfaatkan potensi positif teknologi ini untuk kepentingan nasional.
Para pakar menilai bahwa transisi ke kriptografi pasca-kuantum perlu dimulai segera, mengingat prediksi komersialisasi komputer kuantum diperkirakan terjadi dalam dekade berikutnya. Kesiapan yang matang akan menurunkan risiko serangan siber sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap layanan digital pemerintah.