Setapak Langkah – 16 Mei 2026 | Penelitian terbaru mengembangkan sebuah sistem prediksi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menilai risiko terjadinya amputasi kaki pada pasien diabetes. Sistem ini diharapkan menjadi alat bantu bagi tenaga medis dalam melakukan intervensi lebih awal, sehingga komplikasi serius dapat diminimalisir.
Model tersebut dibangun dengan memanfaatkan data klinis yang meliputi faktor-faktor seperti durasi diabetes, kadar glukosa darah, status neuropati, riwayat luka pada kaki, serta hasil pemeriksaan tekanan darah dan kolesterol. Data tersebut diproses menggunakan algoritma pembelajaran mesin yang telah terlatih untuk mengidentifikasi pola-pola yang berhubungan dengan peningkatan risiko amputasi.
Langkah utama dalam pengembangan model:
- Pengumpulan data dari ribuan pasien diabetes di beberapa rumah sakit ternama.
- Pra‑pemrosesan data untuk membersihkan nilai yang hilang dan menstandarisasi variabel.
- Pemilihan algoritma, termasuk Random Forest, Gradient Boosting, dan Neural Network.
- Pelatihan dan validasi model dengan teknik cross‑validation untuk memastikan akurasi tinggi.
- Penerapan model dalam bentuk aplikasi web yang mudah diakses oleh dokter dan perawat.
Hasil evaluasi menunjukkan akurasi prediksi mencapai lebih dari 85 % dengan sensitivitas tinggi, artinya model dapat dengan baik mengidentifikasi pasien berisiko tinggi. Selain itu, antarmuka aplikasi menampilkan skor risiko secara visual serta rekomendasi tindakan preventif, seperti kontrol gula darah intensif, perawatan luka yang lebih ketat, dan edukasi kebersihan kaki.
Implementasi model ini diharapkan dapat mengurangi angka amputasi kaki secara signifikan. Menurut tim peneliti, penggunaan prediksi berbasis AI dapat memotong biaya perawatan hingga 30 % karena komplikasi serius dapat dicegah sebelum memerlukan prosedur bedah.
Ke depan, tim berencana memperluas basis data dengan memasukkan informasi gaya hidup, seperti tingkat aktivitas fisik dan pola makan, serta mengintegrasikan model ke dalam sistem rekam medis elektronik (EMR) untuk alur kerja yang lebih seamless.
Dengan menggabungkan teknologi AI dan pendekatan klinis yang terpersonalisasi, model ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi digital dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menyelamatkan nyawa pasien diabetes.