Setapak Langkah – 02 April 2026 | Pentagon mengajukan sebuah rencana operasional untuk mengambil material nuklir uranium yang telah diperkaya milik Iran. Proposal ini muncul setelah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Tehran dan berupaya mencegah potensi penyalahgunaan bahan tersebut.
Latar Belakang
Iran telah mengembangkan fasilitas pengayaan uranium yang menimbulkan kekhawatiran bagi komunitas internasional, khususnya Amerika Serikat. Sejak penandatanganan Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) pada 2015, pihak Washington menilai bahwa beberapa komitmen Iran belum terpenuhi secara memuaskan.
Rincian Rencana Pentagon
- Identifikasi lokasi penyimpanan uranium yang diperkaya secara akurat menggunakan intelijen satelit dan sumber manusia.
- Pengiriman tim khusus yang dilengkapi dengan peralatan penangkap dan transportasi aman.
- Pengepakan material dalam kontainer anti-radiasi yang memenuhi standar internasional.
- Pengiriman uranium ke fasilitas penyimpanan milik Amerika Serikat atau sekutu terdekat untuk inspeksi lebih lanjut.
Jadwal Pelaksanaan
| Tahap | Deskripsi | Perkiraan Waktu |
|---|---|---|
| 1. Persiapan Intelijen | Pengumpulan data lokasi dan kondisi keamanan | 2–3 minggu |
| 2. Mobilisasi Tim | Penempatan pasukan dan peralatan di zona operasi | 1 minggu |
| 3. Eksekusi Pengambilan | Penangkapan material dan pemindahan ke kontainer | 1–2 hari |
| 4. Transportasi | Pengiriman ke basis aman untuk analisis | 3–5 hari |
Reaksi Internasional
Iran menolak keras rencana tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Sekretaris Jenderal PBB mengingatkan pentingnya penyelesaian melalui dialog diplomatik dan menegaskan bahwa aksi militer dapat memperburuk situasi. Sementara itu, sekutu NATO menyatakan dukungan terhadap upaya keamanan, namun menekankan perlunya koordinasi dengan badan pengawas nuklir internasional (IAEA).
Pengamat keamanan menilai bahwa operasi semacam ini mengandung risiko tinggi, baik dari segi keamanan fisik maupun implikasi politik yang lebih luas. Mereka menyarankan agar semua pihak mempertimbangkan solusi diplomatik sebagai prioritas utama.