Setapak Langkah – 26 Juni 2026 | Ketegangan militer di Selat Hormuz yang selama beberapa minggu terakhir menjadi sorotan dunia mulai mereda setelah pihak-pihak terkait menandatangani kesepakatan penurunan ancaman. Selat Hormuz, yang menyumbang sekitar satu pertiga perdagangan minyak dunia, kembali terasa lebih stabil, sehingga pasar energi menyesuaikan diri.
Seiring peredaan tersebut, harga minyak mentah internasional mengalami koreksi tipis. Pada sesi perdagangan Asia, harga Brent turun sekitar 0,3% menjadi US$85,10 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melambat 0,4% menjadi US$80,45 per barel. Di Bursa Berjangka Jakarta, indeks harga minyak Brent dan WTI masing-masing mencatat penurunan 0,2% dan 0,3%.
- Brent: US$85,10/bbl (–0,3%)
- WTI: US$80,45/bbl (–0,4%)
- Indeks Harga Minyak Indonesia: turun 0,2% – 0,3%
Penurunan ini mencerminkan harapan pelaku pasar bahwa pasokan minyak global tidak akan terganggu secara signifikan. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, selama ini menjadi jalur kritis bagi ekspor minyak dari Arab Saudi, Iran, dan Uni Emirat Arab. Ketegangan yang meningkat pada awal bulan ini mendorong spekulan menambah posisi beli, yang kemudian berbalik ketika diplomasi menunjukkan hasil positif.
Untuk Indonesia, pergerakan harga ini berimplikasi pada biaya impor minyak mentah serta harga BBM domestik. Pemerintah diperkirakan akan meninjau kembali kebijakan subsidi dan tarif, meski dampak langsung masih terbatas karena penurunan hanya bersifat ringan.
Analisis para ahli menunjukkan bahwa selama ketegangan di Selat Hormuz masih dapat muncul kembali, pasar minyak akan tetap sensitif. Namun, dengan situasi yang kini lebih tenang, koreksi harga diperkirakan akan berlanjut secara moderat hingga ada faktor eksternal lain yang memicu volatilitas.