Setapak Langkah – 17 Juni 2026 | Juru bicara Kementerian Keuangan, Purbaya, menyatakan optimisme tinggi setelah munculnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, berakhirnya ketegangan militer dapat menurunkan tekanan pada pasar energi global, yang pada gilirannya memberi ruang bagi Indonesia untuk menurunkan subsidi energi.
Selama beberapa bulan terakhir, konflik di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah, memaksa pemerintah Indonesia menambah subsidi bahan bakar untuk menahan inflasi domestik. Dengan berkurangnya risiko geopolitik, diperkirakan harga Brent akan stabil atau bahkan turun, mengurangi beban subsidi bahan bakar dan listrik.
Berikut beberapa implikasi utama yang diharapkan Purbaya:
- Penurunan rata-rata harga BBM di SPBU sebesar 5‑7 persen dalam enam bulan ke depan.
- Pengurangan anggaran subsidi energi dari Rp 45 triliun menjadi sekitar Rp 35‑38 triliun pada tahun 2026.
- Peningkatan ruang fiskal sebesar Rp 10‑12 triliun yang dapat dialokasikan untuk infrastruktur dan program sosial.
Dengan penurunan beban subsidi, Kementerian Keuangan menargetkan APBN 2026 menjadi lebih kokoh. Purbaya menegaskan bahwa surplus fiskal yang lebih lebar akan memperkuat posisi Indonesia dalam negosiasi pinjaman internasional serta mempercepat pelaksanaan reformasi struktural.
Secara keseluruhan, gencatan senjata AS‑Iran tidak hanya membawa harapan bagi stabilitas keamanan regional, tetapi juga membuka peluang strategis bagi kebijakan ekonomi domestik, khususnya dalam mengendalikan subsidi energi dan memperluas ruang fiskal untuk pertumbuhan berkelanjutan.