Setapak Langkah – 29 Juni 2026 | Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengorbankan peran tradisional ayah dalam keluarga Indonesia. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada perangkat digital dapat mengikis komunikasi antara ayah dan anak, berpotensi menimbulkan fenomena “fatherless” atau hilangnya figur ayah yang aktif.
Berbagai perangkat seperti smartphone, tablet, dan konsol game kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, ketika penggunaan gadget melebihi batas yang wajar, interaksi tatap muka berkurang. Menurut survei internal BKKBN, 42% anak melaporkan bahwa mereka merasa kurang mendapatkan perhatian dan komunikasi dari ayah, sementara 35% ayah menghabiskan lebih dari tiga jam per hari terfokus pada layar.
| Aspek | Persentase |
|---|---|
| Anak melaporkan kurang komunikasi dengan ayah | 42% |
| Ayah menghabiskan >3 jam per hari di gadget | 35% |
Kurangnya keterlibatan ayah dapat berimbas pada perkembangan emosional, akademik, dan sosial anak. Anak yang jarang mendapat bimbingan ayah cenderung mengalami penurunan motivasi belajar, rasa percaya diri yang lebih rendah, dan risiko perilaku menyimpang.
Untuk mencegah tren negatif ini, Mendukbangga mengusulkan beberapa langkah konkret:
- Mengatur batas waktu penggunaan gadget bagi seluruh anggota keluarga, khususnya pada jam-jam keluarga.
- Mengadakan kegiatan bersama secara rutin, seperti makan malam keluarga, olahraga, atau permainan tradisional.
- Mendorong ayah untuk terlibat aktif dalam tugas sekolah, membantu pekerjaan rumah, atau membimbing proyek kreatif anak.
- Memanfaatkan teknologi sebagai sarana edukatif, misalnya aplikasi belajar, bukan sekadar hiburan pasif.
- Memberikan pelatihan literasi digital kepada orang tua agar mereka dapat memantau dan membimbing penggunaan media oleh anak.
Dengan menyeimbangkan peran teknologi dan kehadiran fisik ayah di rumah, diharapkan Indonesia dapat menjaga nilai kebersamaan keluarga tanpa mengorbankan kemajuan digital.