Setapak Langkah – 30 Juni 2026 | Pemerintah Malaysia memperkirakan bahwa fluktuasi harga energi global akan terus berlanjut setidaknya selama dua tahun ke depan, dengan harapan stabilitas mulai tercapai pada kuartal ketiga tahun 2026.
Latar Belakang
Pasar energi dunia sejak akhir 2022 mengalami tekanan akibat ketegangan geopolitik, gangguan pasokan minyak dan gas, serta transisi cepat menuju sumber energi terbarukan. Kondisi ini menyebabkan harga minyak mentah, gas alam, dan listrik berfluktuasi secara signifikan.
Proyeksi Pemerintah Malaysia
| Tahun | Indeks Harga Energi (rata‑rata) |
|---|---|
| 2024 | 115 |
| 2025 | 120 |
| 2026 (Q3) | 100 |
Angka 100 pada kuartal ketiga 2026 mencerminkan ekspektasi pasar yang kembali ke kondisi sebelum lonjakan harga ekstrem.
Dampak Regional
Ketidakstabilan harga energi berpotensi menambah beban biaya produksi di negara‑negara ASEAN, termasuk Indonesia. Sektor manufaktur, transportasi, dan industri berat dapat merasakan kenaikan biaya operasional yang berkelanjutan.
Langkah Kebijakan yang Disarankan
- Memperkuat cadangan energi strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
- Mendorong diversifikasi sumber energi, terutama energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
- Mengoptimalkan tarif energi melalui mekanisme penyesuaian yang fleksibel.
- Berkoordinasi dengan mitra regional dalam kebijakan energi untuk menstabilkan pasar.
Dengan mengimplementasikan strategi tersebut, negara‑negara di kawasan dapat meminimalkan dampak negatif volatilitas harga dan mempersiapkan transisi energi yang lebih berkelanjutan.