Setapak Langkah – 10 Agustus 2026 | Harga minyak mentah dunia melonjak tajam setelah ketegangan militer meningkat antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran. Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan kelangkaan energi dan memperburuk inflasi di banyak negara.
Menanggapi situasi tersebut, para menteri keuangan negara‑negara G7 (Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat) bersama Badan Energi Internasional (IEA) mengadakan pertemuan darurat di Brussel. Dalam rapat tersebut, para pemimpin membahas langkah-langkah kolektif untuk menstabilkan pasar minyak.
Poin utama yang disepakati meliputi:
- Pemantauan ketat terhadap fluktuasi harga minyak dan pasokan secara real‑time.
- Koordinasi penggunaan cadangan strategis minyak (strategic petroleum reserves) di negara‑negara anggota untuk menambah likuiditas pasar bila diperlukan.
- Penyusunan rekomendasi kebijakan fiskal yang dapat meredam tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.
- Penguatan dialog dengan produsen minyak utama, termasuk OPEC+, untuk menghindari langkah‑langkah protektif yang dapat memperparah krisis.
IEA menambahkan bahwa konflik geopolitik yang meluas berpotensi menurunkan produksi minyak di wilayah Teluk Persia hingga 1,5 juta barel per hari bila eskalasi berlanjut. Hal ini dapat mendorong harga Brent melampaui US$120 per barel dalam beberapa minggu ke depan.
Para menteri menegaskan pentingnya stabilitas energi bagi pertumbuhan ekonomi global. Mereka juga memperingatkan bahwa ketidakpastian pasokan dapat memperlambat pemulihan ekonomi pasca‑pandemi, terutama bagi negara‑negara berkembang yang sangat bergantung pada impor minyak.
Dalam pernyataan bersama, G7 berkomitmen untuk terus memantau situasi dan siap mengambil tindakan lebih lanjut bila diperlukan, termasuk kemungkinan penyesuaian kebijakan moneter dan fiskal di tingkat nasional.