Setapak Langkah – 30 Juli 2026 | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang melaporkan bahwa krisis air bersih kini telah menyebar ke sembilan desa di wilayahnya. Menurut data terbaru, kondisi kekurangan air dipicu oleh penurunan curah hujan yang signifikan serta menurunnya volume air tanah.
Desa‑desa yang terdampak antara lain: Desa A, Desa B, Desa C, Desa D, Desa E, Desa F, Desa G, Desa H, dan Desa I. Secara total, lebih dari 15.000 warga diperkirakan mengalami kesulitan memperoleh air layak untuk kebutuhan sehari‑hari.
Berikut gambaran singkat dampak krisis di masing‑masing desa:
| Desa | Jumlah KK | Kondisi Air |
|---|---|---|
| Desa A | 1.200 | Sumber mata air hampir habis |
| Desa B | 950 | Pipa distribusi rusak |
| Desa C | 1.100 | Sumur pompa tidak berfungsi |
| Desa D | 800 | Air tawar terbatas |
| Desa E | 1.050 | Penurunan debit sumur |
| Desa F | 1.300 | Kualitas air menurun |
| Desa G | 900 | Kerusakan instalasi |
| Desa H | 1.150 | Air bersih hanya tersedia beberapa jam per hari |
| Desa I | 1.000 | Terbatasnya sumber air alternatif |
Untuk mengatasi situasi tersebut, BPBD bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Pekerjaan Umum meluncurkan sejumlah langkah darurat, antara lain distribusi air kemasan, mobilisasi truk tangki, dan perbaikan infrastruktur pipa. Pemerintah Kabupaten juga menyiapkan anggaran khusus untuk mempercepat rehabilitasi sumur dan pembangunan instalasi penyaringan air.
Warga diminta untuk menghemat penggunaan air dan melaporkan kerusakan yang terjadi melalui posko BPBD setempat. Upaya kolaboratif antara aparat daerah, LSM, dan masyarakat diharapkan dapat memulihkan pasokan air bersih dalam waktu terdekat.