Setapak Langkah – 24 Mei 2026 | Sekretaris Jenderal Komnas Pengendalian Tembakau, Tulus Abadi, menegaskan bahwa pengeluaran untuk rokok menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kemiskinan di rumah tangga Indonesia. Ia menyoroti bahwa banyak keluarga mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka untuk membeli rokok, sehingga dana untuk kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan menjadi terbatas.
Data yang dikumpulkan oleh Komnas menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran keluarga pada produk tembakau mencapai 10-15 persen dari total pendapatan bulanan. Pada keluarga berpendapatan rendah, persentase ini dapat melonjak hingga 30 persen, menurunkan daya beli dan meningkatkan risiko terjerumus ke dalam kemiskinan.
- Pengeluaran rokok mengurangi anggaran untuk makanan bergizi.
- Biaya kesehatan meningkat akibat penyakit yang berhubungan dengan tembakau.
- Anak-anak di keluarga perokok cenderung memiliki akses pendidikan yang lebih terbatas.
Komnas menekankan pentingnya langkah preventif, seperti peningkatan tarif cukai tembakau, kampanye edukasi antirokok, dan pemberian bantuan ekonomi bagi keluarga yang terpengaruh. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menurunkan konsumsi rokok serta mengurangi beban finansial yang ditanggung oleh rumah tangga.
Selain itu, Komnas mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah, lembaga swadaya, dan sektor swasta, untuk berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat. Dengan mengurangi konsumsi rokok, tidak hanya kesehatan masyarakat yang terjaga, tetapi juga kesejahteraan ekonomi keluarga dapat meningkat.