Setapak Langkah – 05 Juli 2026 | Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga kembali menggelar Kirab Air Tuk Sikopyah, sebuah tradisi tahunan yang menggabungkan unsur budaya, religius, dan pelestarian lingkungan. Acara ini menjadi wadah bagi warga untuk mengekspresikan rasa syukur atas sumber daya air serta mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga ekosistem sungai dan mata air.
Kirab Air Tuk Sikopyah melibatkan proses simbolis di mana air suci dibawa dalam iringan tarian, musik tradisional, dan prosesi mengelilingi desa. Setiap tahunnya, warga menyiapkan wadah‑wadah air yang diisi dari mata air utama desa, kemudian dipersembahkan di alun‑alun sebagai tanda permohonan perlindungan alam.
| Elemen | Detail |
|---|---|
| Lokasi | Desa Serang, Karangreja, Purbalingga |
| Waktu | Jumat, 3 Oktober 2024 |
| Peserta | ~500 warga, termasuk tokoh adat, pelajar, dan relawan lingkungan |
| Tujuan | Pelestarian mata air, peningkatan kesadaran lingkungan, pelestarian budaya |
Berbagai elemen budaya turut berperan dalam kirab ini:
- Tari Sikopyah: Gerakan tarian melambangkan aliran air yang mengalir lembut, mengekspresikan rasa hormat kepada alam.
- Gamelan dan nyanyian tradisional: Mengiringi prosesi, menciptakan suasana khidmat dan bersatu.
- Upacara penanaman pohon: Setelah kirab, warga menanam bibit pohon di sepanjang aliran sungai sebagai langkah konkret konservasi.
Selain nilai estetika, kirab ini memiliki dampak nyata bagi lingkungan. Menurut data yang dihimpun oleh panitia, sejak 2018, kualitas air di mata air utama desa meningkat sebesar 12 % berdasarkan indeks kejernihan. Penanaman 200 bibit pohon selama lima tahun terakhir juga membantu mengurangi erosi tanah di wilayah hulu.
Partisipasi generasi muda menjadi sorotan utama. Sekolah‑sekolah setempat mengintegrasikan kegiatan kirab ke dalam kurikulum ekstrakurikuler, sehingga siswa tidak hanya menjadi penonton, melainkan juga pelaku aktif dalam proses persiapan dan pelaksanaan.
Ke depan, panitia berencana memperluas jaringan kerjasama dengan lembaga lingkungan daerah, serta menambahkan program edukasi tentang daur ulang dan pengelolaan sampah plastik selama acara. Diharapkan Kirab Air Tuk Sikopyah tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga model konservasi berbasis komunitas yang dapat ditiru oleh desa‑desa lain di Jawa Tengah.