Setapak Langkah – 17 Mei 2026 | Kementerian Agama (Kemenag) kembali menegaskan pentingnya semangat Kiai Wahab Hasbullah sebagai fondasi utama dalam upaya moderasi beragama serta transformasi pesantren di Indonesia. Dalam sebuah pernyataan resmi, Kemenag mengajak seluruh lembaga keagamaan, pesantren, dan masyarakat luas untuk menginternalisasikan nilai-nilai kebijaksanaan sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi dinamika sosial‑keagamaan masa kini.
Kiai Wahab Hasbullah dikenal sebagai tokoh yang menekankan keseimbangan antara tradisi keagamaan dan pembaruan sosial. Ia menolak ekstremisme serta menolak pula stagnasi dalam pendidikan Islam, sehingga menjadi figur sentral bagi gerakan moderasi beragama di tanah air.
Pesan Utama Kemenag
- Penguatan Moderasi: Mengedepankan sikap toleran, dialog antar‑umat, serta menolak segala bentuk radikalisme.
- Transformasi Pesantren: Mendorong integrasi kurikulum modern, teknologi, dan keterampilan vokasi tanpa mengorbankan nilai-nilai keislaman.
- Kolaborasi Lintas Sektor: Mengajak pemerintah, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat untuk bersinergi dalam program-program pembaruan pesantren.
Strategi Transformasi Pesantren
- Revisi kurikulum dengan menambahkan mata pelajaran sains, teknologi, dan bahasa asing.
- Peningkatan fasilitas belajar mengajar melalui digitalisasi dan penyediaan akses internet.
- Pembinaan tenaga pengajar melalui pelatihan metodologi pengajaran modern.
- Pengembangan program kewirausahaan dan keterampilan vokasi yang relevan dengan kebutuhan ekonomi lokal.
Implementasi strategi ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan pesantren yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga kompeten dalam bidang akademik dan profesional. Dengan demikian, pesantren dapat berperan aktif dalam pembangunan nasional serta memperkuat toleransi antar‑umat.
Kemenag juga menekankan pentingnya meneladani nilai-nilai keislaman Kiai Wahab Hasbullah yang berlandaskan pada keadilan, kejujuran, serta kepedulian sosial. “Spirit Kiai Wahab adalah cahaya bagi generasi muda untuk memahami Islam secara inklusif dan produktif,” ujar juru bicara Kemenag.
Ke depan, Kemenag berencana meluncurkan program pendampingan khusus bagi pesantren yang telah mengadopsi model transformasi ini, termasuk pemberian hibah, pelatihan, dan evaluasi berkelanjutan.