Setapak Langkah – 23 Juni 2026 | Presiden Prabowo Subianto menyoroti salah satu faktor utama yang menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, yaitu besarnya kekayaan Indonesia yang terus mengalir ke luar negeri. Menurutnya, aliran dana yang keluar dari negara ibukota berbanding lurus dengan penurunan likuiditas mata uang nasional, layaknya tubuh yang kehilangan darah sehingga menjadi lemah.
Prabowo menjelaskan bahwa selama beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami defisit neraca modal yang signifikan. Investor asing serta beberapa pelaku domestik mengekspor modalnya melalui pembelian aset luar negeri, investasi portofolio, serta penempatan dana di luar negeri. Kondisi ini menurunkan cadangan devisa bersih dan menambah tekanan jual pada rupiah.
Berikut ini gambaran aliran modal bersih Indonesia dalam tiga tahun terakhir:
| Tahun | Aliran Modal Bersih (USD Miliar) |
|---|---|
| 2023 | -12,4 |
| 2022 | -9,7 |
| 2021 | -6,3 |
Data di atas menunjukkan tren negatif yang konsisten, menandakan semakin banyak uang keluar dibandingkan yang masuk.
Dalam menanggapi situasi ini, Prabwu mengusulkan beberapa langkah strategis:
- Meningkatkan iklim investasi domestik melalui insentif fiskal dan regulasi yang lebih ramah bisnis.
- Memperkuat kebijakan pengendalian keluar masuk modal, termasuk peninjauan kembali peraturan pajak atas dividen dan bunga luar negeri.
- Memperluas diversifikasi cadangan devisa ke aset-aset yang lebih stabil, seperti obligasi pemerintah dengan rating tinggi.
- Mendorong pembangunan infrastruktur produktif yang dapat menarik aliran modal jangka panjang.
Para ekonom menilai analogi Prabowo sebagai ilustrasi yang tepat. Dr. Andi Susanto, ekonom senior di Lembaga Penelitian Ekonomi, menyatakan, “Jika arus keluar modal terus berlanjut, likuiditas rupiah akan tertekan, mirip dengan tubuh yang kehilangan darah; kebutuhan akan transfusi (intervensi kebijakan) menjadi mendesak.”
Namun, beberapa pengamat mengingatkan bahwa faktor eksternal seperti kebijakan moneter Amerika Serikat, harga komoditas, dan sentimen pasar global juga berperan penting dalam pergerakan nilai tukar. Oleh karena itu, solusi harus bersifat holistik, menggabungkan kebijakan domestik dengan respons terhadap dinamika internasional.
Secara keseluruhan, pernyataan Prabowo menekankan pentingnya menjaga aliran kekayaan dalam negeri, bukan hanya sebagai upaya melindungi nilai tukar, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.