Setapak Langkah – 24 Agustus 2026 | Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia. Pada tanggal 12 Rabiul Awal, umat Islam memperingati kelahiran Rasulullah yang tidak hanya menjadi peristiwa bersejarah, tetapi juga sarat dengan keajaiban yang tercatat dalam berbagai riwayat.
Berbagai riwayat menyebutkan bahwa pada saat kelahiran Nabi Muhammad, cahaya yang luar biasa muncul dan menyinari wilayah Syam (sekarang meliputi Suriah, Lebanon, Yordania, dan Israel). Cahaya tersebut konon menembus langit malam, memberikan sinar yang begitu terang sehingga dapat dilihat hingga ke pelosok wilayah lain. Sebagian ulama menafsirkan cahaya ini sebagai tanda kebesaran dan keistimewaan yang dibawa oleh Sang Nabi.
Selain fenomena cahaya, ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Iblis—yang biasanya digambarkan sebagai makhluk yang menentang perintah Allah—menunjukkan rasa bersedih pada malam kelahiran Nabi. Dikatakan bahwa Iblis meneteskan air mata, menandakan kekhawatiran atas kedatangan seorang utusan Allah yang akan menantang segala bentuk kezaliman.
- Cahaya Terang: Dipersepsikan sebagai sinar yang menembus kegelapan, menandakan harapan dan petunjuk bagi umat manusia.
- Air Mata Iblis: Simbolik akan pertentangan spiritual yang akan dimulai sejak kelahiran Nabi, mengisyaratkan perjuangan antara kebaikan dan kejahatan.
- Pengaruh Sosial: Kejadian-kejadian tersebut memperkuat keyakinan umat Islam bahwa kedatangan Nabi Muhammad adalah momen transformasi besar dalam sejarah.
Peringatan Maulid tidak hanya melibatkan ceramah dan doa, melainkan juga tradisi budaya seperti pembacaan syair, penampilan musik nasheed, serta penyediaan makanan khas yang menghidupkan semangat kebersamaan. Di Indonesia, perayaan Maulid sering kali diiringi dengan pameran buku-buku keagamaan, diskusi sejarah Islam, dan lomba kaligrafi yang menampilkan ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits yang berkaitan dengan kehidupan Nabi.
Secara akademis, fenomena cahaya dan air mata Iblis menjadi bahan kajian dalam bidang ilmu hadis, sejarah, serta teologi. Peneliti berusaha menelusuri sumber-sumber otentik, menilai kredibilitas riwayat, serta memahami makna simbolisnya dalam konteks sosial‑budaya masa kini.
Dengan menelaah kembali kisah-kisah tersebut, umat Islam dapat menumbuhkan rasa hormat yang lebih dalam terhadap Nabi Muhammad, sekaligus mengingat bahwa tantangan kebaikan dan kejahatan terus berlangsung sejak masa kelahiran beliau hingga hari ini.