Setapak Langkah – 29 Maret 2026 | Permintaan nikel dunia mengalami lonjakan dramatis seiring dengan percepatan adopsi kendaraan listrik (EV) dan kebutuhan baterai berkapasitas tinggi. Indonesia, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar ketiga di dunia, kini berada pada posisi strategis untuk menjadi pemasok utama bahan baku baterai global. Di tengah persaingan internasional, GEM Group, melalui entitas terkaitnya, memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasokan baterai, sekaligus mengoptimalkan sinergi dengan perusahaan pertambangan lain seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Lonjakan Permintaan Nikel Global
Data pasar menunjukkan bahwa pada kuartal pertama 2026, permintaan nikel untuk produksi baterai meningkat lebih dari 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Produsen mobil listrik asal Eropa dan Amerika Serikat menargetkan produksi bersama lebih dari 10 juta unit kendaraan per tahun, yang memerlukan sekitar 150.000 ton nikel logam. Kenaikan tersebut memicu pemerintah Indonesia mempercepat penerapan kebijakan nilai tambah dalam proses pengolahan nikel, termasuk pembangunan smelter dan pabrik konversi.
GEM Group: Dari Tambang ke Baterai
GEM Group, anak perusahaan yang berafiliasi dengan Salim Group, telah menancapkan investasinya pada rantai nilai nikel mulai dari penambangan hingga pembuatan sel baterai. Salah satu langkah signifikan adalah kepemilikan mayoritas 32,17% saham PT Sumber Gemilang Persada, yang pada gilirannya menjadi pemegang saham terbesar di AMMN. Meskipun AMMN lebih dikenal sebagai perusahaan tambang tembaga dan emas, struktur kepemilikan ini menandakan strategi integrasi vertikal yang memungkinkan GEM Group mengakses sumber daya mineral kritis, termasuk nikel, melalui jaringan kemitraan industri.
Direktur Utama GEM Group, Budi Santoso, menyatakan, “Kami melihat peluang besar dalam menghubungkan tambang nikel dengan pabrik baterai domestik. Investasi di sektor pertambangan sekaligus pengolahan akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam ekosistem baterai global.”
Struktur Pemegang Saham AMMN
| Pemegang Saham | Persentase |
|---|---|
| PT Sumber Gemilang Persada | 32,17% |
| PT Medco Energi Internasional Tbk | 20,92% |
| PT AP Investment | 15,45% |
| Masyarakat/Publik | 18,51% |
| Lainnya | 12,95% |
Struktur kepemilikan ini menegaskan peran penting GEM Group dalam mengendalikan arah strategis AMMN, sekaligus memberikan sinyal bahwa perusahaan pertambangan tradisional kini beralih ke sektor energi bersih. Dengan dukungan modal dari Medco Energi dan AP Investment, AMMN dapat memperluas kapasitas produksi serta menyiapkan fasilitas pemurnian yang kompatibel dengan standar baterai nikel‑kobalt‑aluminium (NCA) dan nikel‑kobalt‑mangan (NCM).
Dampak terhadap Perekonomian Nasional
Integrasi antara GEM Group, AMMN, dan proyek‑proyek baterai domestik diproyeksikan menambah nilai tambah sebesar US$5 miliar per tahun bagi perekonomian Indonesia. Selain meningkatkan ekspor mineral olahan, skema ini menciptakan ribuan lapangan kerja, khususnya di daerah Nusa Tenggara Barat tempat tambang Batu Hijau beroperasi. Pemerintah juga menyiapkan insentif fiskal bagi perusahaan yang membangun smelter nikel dengan kapasitas minimal 30.000 ton per tahun, guna mendorong investasi asing dan domestik.
Analisis lembaga riset ekonomi, ISEI, memperkirakan bahwa pada akhir 2027 Indonesia dapat menguasai hingga 20% pangsa pasar global dalam produksi nikel olahan, menyaingi pemain tradisional seperti Rusia, Kanada, dan Australia. Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada stabilitas regulasi, ketersediaan infrastruktur pelabuhan, serta kemampuan perusahaan seperti GEM Group untuk mengelola risiko geopolitik dan fluktuasi harga komoditas.
Secara keseluruhan, transformasi industri nikel Indonesia menjadi kelas atas tidak hanya didorong oleh permintaan pasar, melainkan juga oleh langkah konkret aktor utama seperti GEM Group yang memanfaatkan jaringan kepemilikan strategis di perusahaan pertambangan terkemuka. Sinergi ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global, sekaligus menumbuhkan nilai tambah ekonomi domestik.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah, investasi swasta yang terintegrasi, serta komitmen terhadap standar lingkungan, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk menjadi pusat produksi nikel bersih dan baterai berteknologi tinggi di Asia‑Pasifik.