Setapak Langkah – 24 April 2026 | Harga plastik di pasar domestik mengalami lonjakan signifikan selama beberapa bulan terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan produsen makanan dan minuman (Mamin). Kenaikan harga ini diperkirakan mencapai 30-45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, berdampak pada biaya produksi dan harga jual akhir.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menanggapi situasi tersebut dengan mendorong adopsi kemasan non-plastik, khususnya berbasis kertas, sebagai langkah strategis untuk menurunkan beban biaya sekaligus mendukung agenda keberlanjutan.
Faktor Penyebab Lonjakan Harga Plastik
- Kenaikan harga minyak mentah global yang menjadi bahan baku utama produksi plastik.
- Gangguan rantai pasok akibat kebijakan pembatasan ekspor bahan baku di beberapa negara produsen.
- Permintaan yang meningkat dari sektor konstruksi dan otomotif.
Strategi Kemenperin untuk Industri Mamin
Kemenperin mengeluarkan serangkaian rekomendasi, antara lain:
- Peningkatan penggunaan kemasan berbasis kertas yang dapat diproduksi secara lokal.
- Pemberian insentif fiskal bagi perusahaan yang beralih ke material ramah lingkungan.
- Penyediaan fasilitas penelitian dan pengembangan (R&D) untuk meningkatkan kualitas dan daya tahan kemasan kertas.
Manfaat Beralih ke Kemasan Kertas
| Aspek | Manfaat |
|---|---|
| Biaya | Pengurangan biaya bahan baku hingga 20% dalam jangka menengah. |
| Lingkungan | Emisi CO2 turun sekitar 15% dibandingkan dengan kemasan plastik. |
| Brand Image | Meningkatkan citra perusahaan sebagai pelaku industri hijau. |
Dengan mengimplementasikan kebijakan ini, industri makanan dan minuman diharapkan dapat menjaga stabilitas harga produk akhir, sekaligus berkontribusi pada upaya pengurangan sampah plastik di Indonesia.