Setapak Langkah – 29 Juli 2026 | Pada hari ini, harga minyak mentah global mengalami kenaikan sekitar tiga persen setelah munculnya spekulasi mengenai kemungkinan jeda serangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar energi menanggapi berita tersebut dengan peningkatan permintaan kontrak berjangka, terutama pada minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent.
Kenaikan ini dipicu oleh dua faktor utama: pertama, harapan bahwa perundingan diplomatik dapat menurunkan ketegangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan lebih dari tiga perempat pasokan minyak dunia. Kedua, kekhawatiran bahwa penangguhan serangan dapat memicu fluktuasi pasokan jangka pendek, sehingga para pedagang mengamankan posisi beli.
| Komoditas | Harga Sebelumnya (USD/bbl) | Harga Baru (USD/bbl) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| WTI | 78,50 | 80,80 | 3,0 |
| Brent | 84,20 | 86,70 | 3,0 |
Para analis menilai bahwa meskipun kenaikan tiga persen terkesan moderat, dampaknya dapat terasa pada biaya impor energi Indonesia yang bergantung pada harga internasional. Jika ketegangan di wilayah Teluk terus mereda, pasar dapat mengalami koreksi kembali ke level sebelumnya.
Di sisi lain, bila perundingan terhenti dan ketegangan meningkat kembali, harga minyak berpotensi melampaui level 90 dolar per barel, yang akan menambah beban pada konsumen dan sektor transportasi domestik.
Investor disarankan untuk memantau perkembangan diplomatik serta laporan persediaan minyak dari Organisasi Negara‑Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Badan Energi Internasional (IEA) sebagai indikator utama pergerakan harga ke depan.