Setapak Langkah – 30 Juni 2026 | Pasar energi global kembali mengalami penurunan harga pada pekan ini setelah ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran tidak berujung pada eskalasi militer. Indeks Brent turun sekitar 1,2% menjadi $84,30 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melambat 1,1% menjadi $80,15 per barel.
Penurunan harga ini dipicu oleh tiga faktor utama: pertama, pasar menilai bahwa ancaman pemutusan pasokan dari Teluk Persia masih belum material; kedua, data inventaris minyak strategis Amerika Serikat menunjukkan peningkatan persediaan yang mengindikasikan keseimbangan pasokan yang lebih longgar; ketiga, spekulan beralih ke posisi lebih defensif menjelang rapat OPEC+ yang dijadwalkan minggu depan.
Berikut rangkuman pergerakan harga dalam tiga hari terakhir:
| Hari | Harga Brent (USD/bbl) | Harga WTI (USD/bbl) |
|---|---|---|
| Senin | 85,60 | 81,20 |
| Selasa | 84,90 | 80,70 |
| Rabu | 84,30 | 80,15 |
Meski harga turun, para analis memperingatkan bahwa volatilitas tetap tinggi. Jika ketegangan AS-Iran kembali meningkat, khususnya terkait potensi serangan terhadap fasilitas penyimpanan atau jalur pengiriman minyak, pasar dapat dengan cepat berbalik naik. Sebaliknya, jika diplomasi berhasil meredakan ketegangan, tekanan penawaran dapat melunak, memperkuat tren penurunan.
Secara global, permintaan minyak diproyeksikan akan tumbuh 1,2% pada tahun 2024, didorong oleh pemulihan ekonomi di Asia dan peningkatan aktivitas transportasi. Namun, kebijakan energi hijau dan transisi ke sumber energi terbarukan tetap menjadi faktor jangka panjang yang menekan permintaan fosil.
Para pelaku industri, termasuk perusahaan pengeboran dan distributor, disarankan untuk memantau kebijakan OPEC+, perkembangan diplomatik di Timur Tengah, serta data persediaan strategis secara berkala untuk mengelola risiko harga.