Setapak Langkah – 29 Maret 2026 | Penurunan harga cabai yang terjadi secara simultan di pasar induk dan pasar rakyat memberikan dorongan positif bagi stabilitas harga pangan menjelang pasca Idul Fitri 1447 Hijriah. Badan Pangan Nasional (BPN) menyatakan bahwa penurunan ini membantu mengurangi tekanan inflasi makanan pokok yang biasanya meningkat setelah hari raya.
Berbagai faktor berkontribusi pada penurunan harga, antara lain:
- Peningkatan produksi cabai di beberapa daerah utama, seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.
- Distribusi yang lebih efisien melalui jaringan pasar induk yang menghubungkan petani langsung ke pedagang.
- Kondisi cuaca yang mendukung selama musim tanam, mengurangi risiko gagal panen.
Data yang dirilis BPN menunjukkan perbandingan harga rata‑rata cabai merah di pasar induk dan pasar rakyat selama seminggu terakhir:
| Lokasi | Harga Sebelum (Rp/kg) | Harga Sekarang (Rp/kg) | Penurunan (%) |
|---|---|---|---|
| Pasar Induk Jakarta | 30.000 | 24.000 | 20 |
| Pasar Rakyat Surabaya | 32.000 | 26.500 | 17,2 |
| Pasar Induk Bandung | 28.500 | 22.800 | 20,0 |
Dengan harga yang lebih terjangkau, konsumen diperkirakan dapat berbelanja kebutuhan dapur tanpa harus mengorbankan anggaran rumah tangga. Pedagang pasar rakyat melaporkan peningkatan volume penjualan, meskipun margin keuntungan sedikit menurun.
BPN menekankan pentingnya menjaga kelancaran rantai pasok agar penurunan harga tidak berbalik menjadi kenaikan mendadak. Pemerintah daerah diharapkan terus memantau stok dan memastikan distribusi yang merata, khususnya ke wilayah yang masih mengalami kelangkaan.
Secara keseluruhan, penurunan harga cabai ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi rumah tangga dan upaya pengendalian inflasi makanan di Indonesia.