Setapak Langkah – 17 Juni 2026 | Prof. Doty, seorang guru besar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), berhasil mengubah limbah aluminium menjadi sumber listrik yang ramah lingkungan melalui teknologi berbasis hidrogen. Penelitian ini menjawab dua tantangan utama: penumpukan limbah logam dan kebutuhan energi bersih.
Proses dimulai dengan pengumpulan limbah aluminium—biasanya berasal dari kaleng bekas, serpihan industri, atau komponen kendaraan. Aluminium tersebut kemudian dicairkan dan direaksikan dengan air dalam kondisi khusus, menghasilkan gas hidrogen dan senyawa aluminium oksida. Gas hidrogen selanjutnya diubah menjadi listrik melalui sel bahan bakar (fuel cell), menghasilkan energi listrik tanpa emisi karbon.
Berikut langkah‑langkah utama dalam konversi tersebut:
- Pengumpulan dan pemilahan limbah aluminium.
- Pencairan aluminium pada suhu tinggi.
- Reaksi aluminium cair dengan air menghasilkan hidrogen.
- Pengambilan hidrogen dan penyimpanan dalam tangki bertekanan.
- Pemanfaatan sel bahan bakar untuk mengonversi hidrogen menjadi listrik.
Keunggulan teknologi ini meliputi:
- Pengurangan volume limbah aluminium secara signifikan.
- Penyediaan energi listrik tanpa pembakaran bahan fosil.
- Emisi gas rumah kaca yang hampir nol.
- Potensi penerapan pada skala rumah tangga hingga industri.
Prof. Doty menargetkan agar prototipe sistem ini siap diuji coba komersial dalam dua tahun ke depan, dengan harapan pemerintah dan sektor swasta dapat mendukung pendanaan serta pembangunan fasilitas pengolahan di berbagai daerah.
Inovasi ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam bidang teknologi energi terbarukan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi industri daur ulang dan penciptaan lapangan kerja hijau.