Setapak Langkah – 03 April 2026 | Menjelang hari raya Idul Fitri, jalan raya lintas selatan Bali di Gilimanuk kembali menjadi titik kemacetan terparah. Lebih dari 50.000 kendaraan diperkirakan melintas dalam satu hari, namun infrastruktur yang ada tidak mampu menampung lonjakan volume tersebut, menyebabkan antrean panjang hingga berjam‑jam.
Kondisi ini menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan, mulai dari keterlambatan pengiriman barang, kerugian bagi pelaku usaha, hingga kelelahan pengendara yang terpaksa menunggu lama di jalur utama. Banyak saksi mata melaporkan bahwa kendaraan bahkan harus berbalik karena tidak ada ruang untuk melanjutkan perjalanan.
Menanggapi permasalahan tersebut, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengajukan usulan agar pemerintah segera menyiapkan solusi jangka panjang. Salah satu alternatif yang diusulkan adalah pembangunan pelabuhan baru di kawasan Bali Utara, yang dapat berfungsi sebagai pintu keluar tambahan bagi arus kendaraan dan barang.
- Lokasi potensial: daerah sekitar Pelabuhan Labuan Bajo atau wilayah Pantai Perancak, yang memiliki akses ke jalur laut internasional.
- Manfaat utama: mengurangi beban lalu lintas di Gilimanuk, mempercepat distribusi logistik, serta membuka peluang investasi di sektor pariwisata dan perdagangan.
- Rencana implementasi: studi kelayakan dalam 6‑12 bulan, diikuti dengan tahap konstruksi awal dalam dua tahun ke depan.
Para pengamat transportasi menilai bahwa pelabuhan alternatif dapat menjadi solusi efektif bila dikombinasikan dengan peningkatan kapasitas jalan tol, pengaturan jadwal angkutan, dan pemanfaatan teknologi informasi untuk memantau arus kendaraan secara real‑time.
Dengan dukungan DPR dan tekanan publik, diharapkan pemerintah pusat dan provinsi dapat mempercepat proses perencanaan serta alokasi anggaran, sehingga masalah kemacetan di Gilimanuk tidak kembali terjadi setiap musim libur Lebaran.