Setapak Langkah – 15 Agustus 2026 | Sabtu pagi, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa bumi berkekuatan magnitude 7,7. Guncangan tersebut menimbulkan kerusakan luas pada infrastruktur kritis, termasuk lebih dari 200 menara pemancar seluler (BTS) yang tersebar di pulau-pulau utama.
Akibat kerusakan BTS, jaringan seluler di sejumlah wilayah mengalami pemadaman total atau gangguan sinyal yang signifikan. Pengguna melaporkan kesulitan melakukan panggilan, mengirim SMS, maupun mengakses internet seluler selama beberapa jam setelah gempa.
Penyebab utama jaringan seluler terputus
- Pemutusan listrik: Banyak BTS di NTT bergantung pada listrik dari jaringan PLN. Gempa memutus pasokan listrik utama, sehingga perangkat tidak dapat beroperasi.
- Gangguan transmisi: Getaran kuat merusak kabel serat optik, antena, dan peralatan penguat sinyal. Kerusakan pada titik-titik transmisi mengakibatkan hilangnya koneksi antara BTS dan pusat pengendalian jaringan.
- Kerusakan struktural menara: Beberapa menara mengalami retak atau roboh sebagian, membuat perangkat harus dimatikan demi keamanan.
Operator seluler setempat, termasuk Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata, segera mengerahkan tim teknis untuk melakukan inspeksi lapangan. Upaya pemulihan difokuskan pada penyediaan sumber listrik darurat (generator dan UPS) serta perbaikan jalur transmisi yang rusak.
Selain pemulihan teknis, pihak berwenang juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan komunikasi alternatif, seperti jaringan radio amatir dan layanan satelit, terutama di daerah terpencil yang paling terdampak.
Gempa ini menegaskan pentingnya redundansi dalam infrastruktur telekomunikasi, terutama di wilayah rawan bencana. Penguatan desain menara, pemasangan sistem backup listrik yang lebih handal, serta diversifikasi jalur transmisi menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko terputusnya layanan seluler di masa depan.