Setapak Langkah – 08 Juni 2026 | Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK‑KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) baru‑baru ini menyelenggarakan bedah buku dengan tema “Transformasi Asesmen Pendidikan Kedokteran melalui Programmatic Assessment dalam Kerangka Outcome‑Based Education (OBE)”. Acara yang dilaksanakan di Auditorium Fakultas Kedokteran UGM, Sleman, menjadi ajang diskusi para akademisi, dosen, dan praktisi medis tentang perlunya perubahan paradigma penilaian dalam pendidikan kedokteran.
Programmatic Assessment yang diusung mengedepankan penilaian berkelanjutan, yakni serangkaian evaluasi yang terintegrasi sepanjang proses belajar, bukan sekadar ujian akhir. Pendekatan ini selaras dengan OBE yang menekankan pencapaian kompetensi spesifik sebagai hasil akhir pendidikan.
Beberapa poin kunci yang disorot dalam diskusi meliputi:
- Penilaian formatif yang dilakukan secara reguler untuk memberi umpan balik cepat kepada mahasiswa.
- Penggunaan portofolio digital sebagai bukti akumulasi kompetensi.
- Integrasi simulasi klinis dan kasus nyata dalam proses evaluasi.
- Kolaborasi antar‑departemen untuk menilai kompetensi lintas bidang, seperti kesehatan masyarakat dan keperawatan.
Berikut rangkaian langkah utama dalam sistem asesmen berkelanjutan yang diusulkan:
| Langkah | Tujuan | Metode |
|---|---|---|
| 1. Penetapan kompetensi OBE | Menentukan standar kompetensi lulusan | Workshop kurikulum dengan pakar pendidikan kedokteran |
| 2. Desain asesmen formatif | Memberi umpan balik dini | Quiz online, mini‑case, dan diskusi kelompok |
| 3. Implementasi asesmen sumatif terintegrasi | Menilai pencapaian akhir kompetensi | OSCE, ujian praktik, dan evaluasi portofolio |
| 4. Analisis data asesmen | Identifikasi kesenjangan pembelajaran | Statistik deskriptif dan visualisasi dashboard |
| 5. Perbaikan kurikulum berkelanjutan | Meningkatkan kualitas pembelajaran | Review tahunan oleh tim kurikulum |
Dengan menerapkan sistem ini, FK‑KMK UGM berharap dapat menghasilkan dokter yang tidak hanya menguasai pengetahuan teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan klinis, etika profesional, serta pemahaman mendalam tentang kesehatan masyarakat. Pada akhirnya, peningkatan mutu lulusan diharapkan berkontribusi pada layanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.