Setapak Langkah – 07 April 2026 | Anggota Komisi VII DPR RI menegaskan perlunya percepatan pembangunan jalur penyeberangan roll-on/roll-off (Ro‑Ro) antara Pelabuhan Dumai, Riau, dan Pelabuhan Melaka, Malaysia. Mereka menilai proyek ini sebagai langkah strategis untuk memanfaatkan potensi wisatawan ASEAN serta memperkuat sektor industri dan investasi di Indonesia.
Beberapa alasan utama yang diutarakan antara lain:
- Mempermudah mobilitas barang dan penumpang lintas selatan, sehingga menurunkan biaya logistik.
- Meningkatkan arus wisatawan ASEAN, khususnya dari Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina, yang dapat memperluas pasar pariwisata domestik.
- Menjadi katalis bagi pengembangan kawasan industri di sekitar Dumai dan Pelabuhan Batu Ampar.
- Mendorong investasi asing langsung (FDI) dengan menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperbaiki infrastruktur transportasi maritim.
Dalam rapat tersebut, anggota Komisi VII menuntut agar pemerintah pusat dan daerah menyiapkan anggaran serta mempercepat proses perizinan. Mereka juga meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DLHK) untuk menyelesaikan studi kelayakan teknis dan lingkungan dalam waktu tiga bulan ke depan.
| Tahapan | Waktu Target | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| Studi kelayakan akhir | Q3 2026 | BPPT & DLHK |
| Penerbitan Izin Operasional | Q4 2026 | Kementerian Perhubungan |
| Pengadaan kapal Ro‑Ro | Q1 2027 | Pelabuhan Dumai |
| Operasional pertama | Q2 2027 | Operator swasta |
Jika jadwal tersebut dapat dipenuhi, diperkirakan dalam lima tahun pertama jalur Ro‑Ro Dumai‑Melaka dapat menyerap lebih dari 200.000 penumpang dan 1,5 juta ton barang, yang berpotensi menambah kontribusi sektor transportasi laut hingga 2,5 % dari PDB nasional.
Para legislator menutup pertemuan dengan menyerukan sinergi antara kementerian terkait, pemerintah provinsi Riau, serta pihak swasta untuk memastikan keberlanjutan proyek. Mereka menegaskan bahwa percepatan Ro‑Ro tidak hanya akan meningkatkan konektivitas regional, tetapi juga menjadi magnet investasi yang memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di kancah ASEAN.