Setapak Langkah – 05 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) menilai bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada pada level yang relatif undervalued dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa posisi undervalued dapat menjadi peluang sekaligus tantangan dalam menjaga stabilitas moneter dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Untuk mengoptimalkan manfaat dari kondisi tersebut, BI merumuskan tujuh langkah strategis yang akan dijalankan dalam beberapa bulan ke depan. Langkah‑langkah tersebut dirancang untuk memperkuat posisi rupiah secara berkelanjutan, sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.
- Intervensi Pasar Valas Terukur – BI akan melakukan operasi pasar terbuka (open market operations) secara selektif untuk menstabilkan fluktuasi nilai tukar, dengan fokus pada likuiditas dan arah pergerakan pasar.
- Penyesuaian Kebijakan Suku Bunga – Meninjau kembali tingkat suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) guna menyeimbangkan antara menarik aliran modal asing dan mendukung kredit domestik.
- Penguatan Cadangan Devisa – Memperbesar cadangan devisa melalui diversifikasi aset, termasuk peningkatan kepemilikan obligasi luar negeri dan penambahan emas sebagai lindung nilai.
- Koordinasi Kebijakan Fiskal – Bekerja sama dengan Kementerian Keuangan untuk menyelaraskan kebijakan fiskal, terutama dalam pengelolaan defisit anggaran dan reformasi pajak.
- Pengembangan Pasar Uang dan Derivatif – Memperluas instrumen pasar uang serta produk derivatif valuta asing untuk memberikan alternatif hedging bagi pelaku pasar.
- Komunikasi Kebijakan yang Transparan – Meningkatkan frekuensi dan kejelasan publikasi kebijakan moneter, termasuk penyampaian prospek ekonomi dan ekspektasi inflasi.
- Reformasi Struktural Ekonomi – Mendorong peningkatan produktivitas, investasi infrastruktur, dan diversifikasi ekspor untuk memperkuat fundamental ekonomi yang mendasari nilai tukar.
Implementasi langkah‑langkah ini diharapkan dapat menurunkan volatilitas rupiah, menurunkan biaya pinjaman bagi sektor produktif, serta menjaga ekspektasi inflasi tetap dalam target. Perry Warjiyo menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal serta partisipasi aktif dari sektor swasta dalam menstabilkan nilai tukar.
Penguatan rupiah di tengah kondisi undervalued juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, sekaligus menurunkan beban impor yang sensitif terhadap pergerakan nilai tukar.