Setapak Langkah – 04 Agustus 2026 | Dalam upaya mempercepat transisi energi, pemerintah China mengumumkan target ambisius untuk meningkatkan porsi listrik yang dihasilkan dari sumber energi nonfosil menjadi setengah dari total produksi pada tahun 2030. Target ini menandai lonjakan signifikan dibandingkan dengan tahun 2020, ketika hanya sekitar 25 persen listrik China berasal dari tenaga nonfosil.
Rencana strategis tersebut mencakup sejumlah kebijakan kunci, antara lain:
- Peningkatan investasi pada pembangkit listrik tenaga surya dan angin, dengan tujuan menambah kapasitas terpasang sebesar 1.200 gigawatt pada akhir dekade.
- Pembangunan infrastruktur jaringan listrik pintar untuk mengoptimalkan distribusi energi terbarukan.
- Pengurangan subsidi bahan bakar fosil secara bertahap, sekaligus memberikan insentif bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi bersih.
- Peningkatan standar efisiensi energi untuk sektor industri dan bangunan.
Berikut perkiraan perubahan proporsi energi listrik antara 2020 dan 2030:
| Tahun | Energi Fosil (%) | Energi Nonfosil (%) |
|---|---|---|
| 2020 | 75 | 25 |
| 2030 | 50 | 50 |
Target 50 persen ini selaras dengan komitmen China dalam Perjanjian Paris dan upaya global mengendalikan pemanasan bumi. Pemerintah berharap bahwa peningkatan pasokan listrik bersih akan menurunkan emisi CO₂ nasional sebesar 1,2 gigaton per tahun, sekaligus menciptakan jutaan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan.
Para analis ekonomi menilai bahwa pencapaian target ini dapat memperkuat posisi China sebagai pemimpin pasar energi hijau, namun menimbulkan tantangan terkait penyediaan bahan baku kritis seperti logam tanah jarang dan kebutuhan investasi yang diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS.
Secara internasional, langkah China ini diperkirakan akan memicu kompetisi teknologi bersih, mempercepat penurunan biaya panel surya dan turbin angin, serta memberikan tekanan pada negara-negara penghasil batu bara untuk mempercepat diversifikasi energi.