Setapak Langkah – 23 Juni 2026 | Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok menyatakan dukungannya terhadap kelanjutan pembicaraan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat yang sedang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah konferensi pers pada tanggal tertentu.
Dialog yang dimulai pada akhir tahun lalu ini dianggap penting untuk meredakan ketegangan yang telah berlangsung lama, terutama terkait program nuklir Iran dan sanksi ekonomi yang dikenakan oleh Washington. China menekankan bahwa penyelesaian damai melalui jalur diplomatik adalah solusi terbaik bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Pakistan dan Qatar masing‑masing memainkan peran sebagai mediator. Pakistan, yang berbagi perbatasan dengan Iran, menawarkan dukungan logistik dan keamanan, sementara Qatar, sebagai tuan rumah pertemuan, menyediakan fasilitas dan jaringan diplomatik yang luas. Kedua negara tersebut berupaya menciptakan suasana saling percaya antara kedua belah pihak.
Berikut rangkuman posisi utama masing‑masing pihak:
| Pihak | Posisi Utama |
|---|---|
| Iran | Mengupayakan penghapusan sanksi dan pengakuan hak bersenjata nuklir yang damai |
| Amerika Serikat | Menuntut pembatasan program nuklir Iran dan verifikasi kepatuhan |
| China | Mendukung dialog berkelanjutan dan menolak penggunaan kekuatan militer |
| Pakistan | Menjamin keamanan proses pertemuan dan memfasilitasi komunikasi |
| Qatar | Menyediakan tempat netral dan membantu agenda pembicaraan |
Para analis menilai bahwa keterlibatan China dapat menambah berat diplomatik pada proses mediasi, mengingat Beijing memiliki hubungan ekonomi dan energi yang kuat dengan kedua belah pihak. Dukungan Beijing dipandang sebagai sinyal bahwa komunitas internasional secara luas mengharapkan solusi yang berlandaskan pada dialog, bukan konfrontasi.
Jika dialog berhasil, diperkirakan akan membuka peluang bagi pemulihan hubungan dagang antara Iran dan Amerika Serikat, yang selama ini terhambat oleh sanksi. Hal ini juga berpotensi menstabilkan pasar energi global, mengingat Iran merupakan salah satu produsen minyak utama.
Sementara itu, China menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan dan siap memberikan bantuan teknis atau diplomatik bila diperlukan. Pemerintah Beijing berharap proses ini dapat menjadi contoh bagi penyelesaian konflik lainnya di wilayah yang penuh dinamika.