Setapak Langkah – 06 Juli 2026 | Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) diperkirakan telah mengoperasikan lebih dari 500 unit pesawat tempur siluman generasi kelima J-20, menjadikannya armada generasi kelima terbesar di dunia, melampaui total pesawat F-35A milik Amerika Serikat.
J-20 pertama kali terbang pada 2011 dan masuk layanan operasional pada 2017. Sejak itu, produksi massal dipercepat dengan bantuan pabrikasi modular dan peningkatan rantai pasokan, sehingga pada akhir 2023 jumlah total yang aktif diperkirakan mencapai 500‑520 unit.
Berikut beberapa faktor yang memungkinkan China mencapai angka tersebut:
- Investasi besar‑besar pemerintah dalam program stealth dan avionik modern.
- Penggunaan mesin domestik WS‑15 yang semakin stabil.
- Pembangunan fasilitas produksi di wilayah Chengdu dan Shenyang yang dapat memproduksi 30‑40 unit per tahun.
Perbandingan kuantitatif antara J-20 China dan F-35 AS dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
| Jenis Pesawat | Jumlah Unit Aktif | Produksi Tahunan (perkiraan) |
|---|---|---|
| J-20 (China) | ~520 | 30‑40 |
| F-35A (AS) | ~300 | ~80 (global) |
Meski jumlah J-20 lebih tinggi, kemampuan operasional kedua platform tetap berbeda. J-20 dirancang untuk pertempuran udara‑ke‑udara jarak jauh dan penetrasi pertahanan udara, sementara F-35 menonjolkan kemampuan multirole, jaringan data, dan interoperabilitas dengan aliansi NATO.
Implikasi strategis dari dominasi kuantitatif J-20 meliputi:
- Peningkatan daya tawar China dalam negosiasi keamanan regional.
- Potensi tekanan pada sistem pertahanan udara negara‑negara Asia‑Pasifik.
- Pendorong inovasi lebih lanjut dalam teknologi stealth di kalangan pesaing.
Amerika Serikat menanggapi dengan memperkuat program modernisasi F‑22, mempercepat produksi F‑35 Block 4, serta meningkatkan kehadiran aliansi di Indo‑Pasifik. Persaingan ini diperkirakan akan menambah ketegangan militer di kawasan, sekaligus mendorong transparansi dan dialog keamanan multilateral.