Setapak Langkah – 10 Agustus 2026 | Ekonom senior INDEF, Didik J. Rachbini, memperingatkan bahwa ketergantungan pada belanja pemerintah sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Ia menekankan perlunya langkah-langkah lain agar pertumbuhan ekonomi tidak turun di bawah target 5%.
Pengaruh Belanja Pemerintah Terhadap Pertumbuhan
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia meningkatkan alokasi anggaran untuk proyek infrastruktur, bantuan sosial, dan stimulus fiskal. Meskipun kebijakan tersebut berhasil menstabilkan pertumbuhan pada masa-masa sulit, Didik menilai bahwa efek multiplikasi belanja publik mulai berkurang seiring meningkatnya defisit dan beban utang.
Risiko Ketergantungan Fiskal
Berikut beberapa risiko yang diidentifikasi:
- Defisit Anggaran: Peningkatan belanja tanpa peningkatan pendapatan menyebabkan defisit yang semakin lebar, menekan neraca keuangan negara.
- Beban Utang: Peningkatan pinjaman domestik dan luar negeri meningkatkan risiko fiskal bila pertumbuhan tidak cukup kuat untuk menutupi pembayaran bunga.
- Inflasi: Stimulus berlebih dapat menambah tekanan inflasi, khususnya pada barang kebutuhan pokok.
Strategi Diversifikasi Pertumbuhan
Didik mengusulkan beberapa alternatif untuk menurunkan ketergantungan pada belanja pemerintah:
- Mendorong investasi swasta melalui penyederhanaan perizinan dan kebijakan fiskal yang lebih menarik.
- Pengembangan sektor teknologi dan inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas.
- Reformasi struktural pada pasar tenaga kerja untuk meningkatkan partisipasi dan kualitas tenaga kerja.
- Penguatan tata kelola pajak agar penerimaan negara dapat meningkat secara berkelanjutan.
Dengan mengimplementasikan langkah‑langkah tersebut, diharapkan ekonomi Indonesia dapat tetap tumbuh di atas 5% tanpa harus mengandalkan belanja pemerintah secara terus‑menerus.