Setapak Langkah – 31 Juli 2026 | Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau menegaskan pentingnya upaya rehabilitasi mangrove yang dilakukan secara terpadu. Menurut kepala BPDAS, program ini tidak hanya melibatkan penanaman kembali pohon bakau, melainkan juga integrasi dengan kegiatan sosial‑ekonomi masyarakat sekitar, pengendalian erosi, serta pemantauan kualitas air.
Alasan utama perlunya pendekatan terpadu
Ekosistem mangrove memiliki peran strategis dalam menyerap karbon, melindungi pantai dari abrasi, serta menjadi habitat bagi berbagai spesies laut dan burung. Namun, tekanan akibat penebangan ilegal, perubahan iklim, dan pembangunan wilayah pinggir laut telah mengurangi luas tutupan mangrove secara signifikan di wilayah Mahakam Berau.
- Penguatan kapasitas masyarakat: Melibatkan nelayan dan petani lokal dalam pelatihan penanaman serta perawatan bakau.
- Sinergi antar‑lembaga: Koordinasi antara BPDAS, Dinas Lingkungan Hidup, dan LSM lingkungan untuk penyediaan bibit dan pendanaan.
- Monitoring berkelanjutan: Penggunaan teknologi GIS dan drone untuk memantau pertumbuhan mangrove secara real‑time.
Langkah-langkah implementasi
- Identifikasi zona kritis yang mengalami degradasi paling parah.
- Penyediaan bibit bakau unggul yang tahan terhadap salinitas tinggi.
- Pelaksanaan penanaman bersama masyarakat pada musim hujan.
- Pelatihan teknik perawatan, termasuk pencegahan serangan hama.
- Evaluasi tahunan dan penyesuaian strategi berdasarkan hasil monitoring.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, BPDAS berharap dalam lima tahun ke depan dapat meningkatkan kembali tutupan mangrove sebesar 30 % di wilayah aliran Mahakam Berau, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir melalui ekowisata dan budidaya perikanan berkelanjutan.