Setapak Langkah – 06 Juni 2026 | Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meningkatkan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter dalam upaya memperkuat nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar global.
Koordinasi tersebut mencakup penyesuaian kebijakan fiskal, termasuk pengelolaan anggaran dan penetapan prioritas belanja, yang selaras dengan langkah-langkah moneter seperti penyesuaian suku bunga, intervensi pasar valuta asing, dan pengendalian likuiditas.
Beberapa langkah konkret yang diambil antara lain:
- Penyusunan proyeksi pertumbuhan ekonomi bersama yang menjadi acuan bagi kebijakan moneter dan fiskal.
- Penguatan cadangan devisa melalui pembelian surat berharga pemerintah di pasar terbuka.
- Pengaturan kembali struktur pembiayaan publik untuk mengurangi tekanan inflasi.
- Koordinasi jadwal peluncuran kebijakan fiskal dengan keputusan suku bunga Bank Indonesia.
Para pejabat menilai sinergi ini dapat menurunkan volatilitas nilai tukar, menurunkan biaya pinjaman, serta meningkatkan kepercayaan investor asing. Sebagai contoh, stabilitas rupiah diharapkan dapat menurunkan biaya impor bahan baku dan mendukung pertumbuhan sektor ekspor.
Selain itu, sinergi kebijakan fiskal‑moneter diperkirakan akan memperkuat kredibilitas makroekonomi Indonesia, yang pada gilirannya dapat menurunkan spread obligasi pemerintah dan menurunkan premi risiko pada pasar modal.
Namun, koordinasi ini juga menuntut disiplin fiskal yang ketat, termasuk pengendalian defisit anggaran dan pengelolaan utang publik secara berkelanjutan. Kedua lembaga menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat dinamis dan akan terus dievaluasi sesuai dengan perkembangan ekonomi domestik dan faktor eksternal.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan rupiah dapat mempertahankan atau bahkan menguatkan posisinya terhadap mata uang utama, memberikan dukungan bagi stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.