Setapak Langkah – 13 Juni 2026 | Bank Dunia memberikan peringatan keras terkait melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS. Penurunan ini menambah beban bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal inflasi, beban utang luar negeri, dan arus modal.
Dalam laporan terbaru, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5 % dari perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran 5,5‑6 %. Penurunan tersebut dipicu oleh beberapa faktor utama:
- Ketidakstabilan nilai tukar yang meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi.
- Kenaikan harga barang konsumsi yang dapat memicu inflasi lebih tinggi.
- Risiko penurunan kepercayaan investor asing yang dapat mengurangi aliran investasi langsung.
- Beban pembayaran utang luar negeri yang menjadi lebih mahal dalam mata uang rupiah.
Bank Dunia menekankan bahwa kebijakan moneter dan fiskal yang koheren sangat penting untuk menahan tekanan nilai tukar. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Peningkatan cadangan devisa untuk memberikan buffer pada pasar valuta asing.
- Penerapan kebijakan suku bunga yang responsif terhadap pergerakan nilai tukar.
- Penguatan reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekspor.
- Pengelolaan defisit transaksi berjalan melalui diversifikasi sumber pendapatan dan pengurangan ketergantungan pada impor.
Para analis menilai bahwa jika nilai tukar tidak dapat dikendalikan, proyeksi pertumbuhan di bawah 5 % dapat menjadi kenyataan, sekaligus menambah beban pada kebijakan sosial‑ekonomi pemerintah. Oleh karena itu, koordinasi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan lembaga terkait menjadi kunci dalam menstabilkan rupiah dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.