Setapak Langkah – 25 April 2026 | Balai Budaya Condet, yang dulunya dikenal sebagai Laboratorium Tari dan Karawitan Condet, telah beroperasi sejak awal 1990-an sebagai ruang kreatif bagi seniman di Jakarta. Pada pekan ini, gedung bersejarah tersebut menjadi panggung bagi pertunjukan tarian yang mengangkat tema peran ganda perempuan Betawi, menyoroti dinamika antara tradisi dan modernitas dalam kehidupan mereka.
Konsep tarian ini dirancang oleh seniman koreografer lokal bersama peneliti budaya Betawi. Mereka menelusuri dua sisi utama peran perempuan Betawi: sebagai penjaga adat, pengelola rumah tangga, sekaligus sebagai anggota produktif yang berpartisipasi dalam dunia kerja modern. Gerakan tari memadukan langkah-langkah tradisional Betawi dengan elemen kontemporer, menciptakan dialog visual yang kuat.
Para penari, yang mayoritas berasal dari komunitas Betawi, mengenakan kostum yang memadukan batik tradisional dengan potongan pakaian modern. Setiap adegan menampilkan cerita yang berbeda, mulai dari ritual keagamaan di pekarangan rumah, hingga aktivitas di pasar atau kantor. Musik pengiring menggabungkan alat musik tradisional seperti gong, rebab, dan kendang dengan instrumen modern seperti keyboard.
- Tujuan utama: Mengangkat kesadaran akan peran ganda perempuan Betawi serta melestarikan warisan budaya melalui seni pertunjukan.
- Durasi pertunjukan: Sekitar 45 menit, terdiri dari lima segmen tematik.
- Penonton: Lebih dari 300 orang, termasuk warga setempat, mahasiswa, serta pelaku industri kreatif.
- Reaksi publik: Antusiasme tinggi, banyak yang memuji keberanian mengangkat isu gender dalam konteks budaya lokal.
Direktur Balai Budaya Condet menegaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari program tahunan untuk memperkuat identitas budaya Betawi di tengah arus globalisasi. Ia menambahkan bahwa ke depannya akan ada lebih banyak kolaborasi dengan sekolah, universitas, dan lembaga kebudayaan lain untuk memperluas jangkauan edukatif pertunjukan semacam ini.
Dengan menampilkan tarian berbasis peran ganda perempuan Betawi, Balai Budaya Condet tidak hanya memberikan panggung bagi seniman lokal, tetapi juga membuka ruang dialog tentang peran perempuan dalam masyarakat tradisional dan modern. Harapannya, karya ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan warisan budaya Betawi.