Setapak Langkah – 10 Juli 2026 | Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK) di Banda Aceh menegaskan bahwa Indonesia harus memperkuat rantai pasok hilirisasi nilam untuk bersaing di pasar internasional. Menurut para peneliti, meski cadangan nilam negara ini melimpah, nilai tambah yang dihasilkan masih terbatas pada ekspor bijih mentah.
ARC USK mengidentifikasi tiga faktor utama yang menghambat pengembangan industri hilir nilam. Pertama, infrastruktur pengolahan yang masih kurang memadai, terutama fasilitas smelter dan pabrik pembuatan baterai. Kedua, kebijakan fiskal dan regulasi yang belum sepenuhnya mendukung investasi asing dan domestik di sektor tersebut. Ketiga, keterbatasan sumber daya manusia yang terampil dalam teknologi pengolahan logam.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, ARC USK mengusulkan beberapa langkah strategis:
- Pengembangan kawasan industri khusus nilam dengan insentif pajak dan kemudahan perizinan.
- Kolaborasi antara universitas, lembaga riset, dan perusahaan untuk mempercepat transfer teknologi.
- Peningkatan program pendidikan vokasi dan pascasarjana yang fokus pada metalurgi dan teknologi baterai.
- Penetapan standar kualitas produk hilir yang selaras dengan kebutuhan pasar global, khususnya industri kendaraan listrik.
Data terbaru menunjukkan permintaan baterai lithium‑ion global diproyeksikan meningkat lebih dari 15% per tahun hingga 2030. Jika Indonesia dapat memproduksi bahan baku nilam yang bersih dan berkualitas, negara ini berpotensi menjadi pemasok utama bagi produsen mobil listrik di Eropa, Amerika Utara, dan Asia.
Selain manfaat ekonomi, penguatan hilirisasi nilam juga diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan daerah, dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah. ARC USK menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi untuk mewujudkan ekosistem nilai tambah yang berkelanjutan.