Setapak Langkah – 08 Mei 2026 | Ade Armando, aktivis media sosial yang dikenal sering mengkritik kebijakan pemerintah, kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video ceramah yang dibagikannya dituduh menghasut dan menista Mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK). Dalam sebuah pernyataan resmi yang diunggah ke akun media sosialnya, Ade menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat menistakan JK.
Video tersebut menampilkan cuplikan ceramah mengenai “mati syahid” yang kemudian diberi komentar oleh Ade dengan menambahkan catatan kritis. Beberapa netizen menafsirkan komentar tersebut sebagai serangan pribadi terhadap JK, sehingga memicu perdebatan sengit di dunia maya.
Berikut beberapa poin penting dalam pernyataan Ade Armando:
- Ia bersumpah tidak menistakan JK dan menolak semua tuduhan menghasut.
- Komennya bersifat kritis terhadap interpretasi agama, bukan terhadap pribadi JK.
- Ade menegaskan bahwa kebebasan berpendapat harus dilindungi, namun tetap menghormati norma kesopanan.
- Jika ada pihak yang merasa tersinggung, ia siap berdialog secara konstruktif.
Selain itu, Ade juga menyoroti pentingnya membedakan antara kritik terhadap pandangan religius dan penghinaan terhadap individu. Ia menambahkan bahwa penyebaran informasi yang tidak jelas dapat memperburuk suasana politik dan menimbulkan konflik yang tidak perlu.
Pihak kepolisian setempat belum mengeluarkan surat panggilan resmi kepada Ade, namun kasus ini telah menarik perhatian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Komisi I DPR yang menangani isu-isu kebebasan berpendapat serta potensi penyebaran ujaran kebencian.
Para pengamat politik menilai bahwa kasus ini mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat antara aktivis media sosial dengan tokoh politik senior. Mereka menekankan bahwa dialog terbuka dan transparan diperlukan untuk menghindari eskalasi konflik.
Sejauh ini, Ade Armando belum mengumumkan langkah selanjutnya, namun ia berjanji akan terus mengawal hak kebebasan berbicara tanpa melanggar batas-batas hukum yang berlaku.