Setapak Langkah – 02 Juli 2026 | Sejak akhir 2025, lima dapur Sarana Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) yang berlokasi di tiga daerah tertinggal (3T) Jawa Tengah masih belum beroperasi. Keterlambatan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor serta menunda manfaat program gizi bagi masyarakat setempat.
Kelima dapur tersebut tersebar di wilayah berikut:
- Batang
- Pekalongan
- Pemalang
- Kendal
- Brebes
Berbagai faktor menjadi penyebab utama penangguhan, antara lain keterlambatan pencairan dana, proses perizinan yang berlarut, serta masalah penyediaan lahan yang belum selesai. Investor yang telah menanamkan modal menilai risiko kegagalan proyek semakin tinggi, sementara pemerintah daerah berupaya mencari solusi cepat.
| Dapur | Lokasi | Status |
|---|---|---|
| SPPG‑1 | Batang | Nganggur |
| SPPG‑2 | Pekalongan | Nganggur |
| SPPG‑3 | Pemalang | Nganggur |
| SPPG‑4 | Kendal | Nganggur |
| SPPG‑5 | Brebes | Nganggur |
Akibat penundaan ini, penerima manfaat—terutama anak-anak sekolah dan ibu hamil—belum dapat menikmati program makan bergizi yang dirancang untuk meningkatkan status gizi dan produktivitas. Selain dampak sosial, ketidakterpenuhinya target pembangunan juga menghambat pertumbuhan ekonomi lokal, mengingat industri pangan dan agribisnis di daerah 3T berpotensi menjadi pendorong utama lapangan kerja.
Pihak terkait, termasuk Dinas Pertanian Jawa Tengah, Kementerian Pertanian, serta lembaga keuangan yang mendanai proyek, diharapkan dapat mempercepat proses penyelesaian administrasi, menjamin aliran dana tepat waktu, dan mengatasi isu lahan. Langkah konkret seperti pembentukan tim khusus untuk pemantauan progres dan penetapan jadwal operasional yang realistis dapat meminimalisir risiko mangkraknya investasi.
Jika semua pihak dapat berkoordinasi secara efektif, kelima dapur SPPG diharapkan dapat mulai beroperasi dalam beberapa bulan ke depan, sehingga program gizi nasional kembali berada pada jalur yang tepat dan memberikan dampak positif bagi masyarakat 3T Jawa Tengah.