Setapak Langkah – 25 Mei 2026 | Sejumlah 28 jiwa, termasuk 13 anggota satu keluarga, dilaporkan tewas akibat longsor di sebuah lokasi tambang di Angola. Dua korban lainnya masih belum ditemukan, menambah kepanikan di antara keluarga dan masyarakat sekitar.
Longsor terjadi pada malam hari ketika cuaca di wilayah tersebut dilaporkan tidak stabil, dengan curah hujan yang tinggi memperparah kondisi tanah di area pertambangan. Menurut saksi mata, tanah tiba‑tiba meluncur menimpa area kerja tambang, menjerat para pekerja yang sedang berada di lokasi.
Petugas darurat setempat segera dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan pencarian. Tim SAR menemukan jenazah 28 korban, sementara dua orang yang masih hilang sedang dalam proses pencarian intensif. Upaya penyelamatan melibatkan helikopter, kendaraan lapangan, dan tenaga medis yang siap memberikan pertolongan pertama.
Berbagai lembaga pemerintah Angola, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menegaskan akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab longsor serta mengevaluasi standar keselamatan di tambang‑tambang serupa.
Langkah‑langkah yang diambil pasca‑insiden meliputi:
- Pembentukan tim investigasi independen.
- Peninjauan kembali prosedur keselamatan kerja di sektor pertambangan.
- Peningkatan fasilitas pemantauan cuaca dan peringatan dini.
- Penyediaan dukungan psikologis bagi keluarga korban.
Kejadian ini menimbulkan keprihatinan internasional mengenai keamanan kerja di industri pertambangan, terutama di negara‑negara berkembang yang rawan bencana alam. Para analis memperkirakan bahwa insiden ini dapat memicu peninjauan ulang kebijakan regulasi keselamatan kerja di Angola dan mungkin berdampak pada investasi di sektor pertambangan.
Hingga kini, keluarga korban masih menunggu kepastian mengenai identitas jenazah dan proses pemakaman. Pemerintah setempat berjanji akan memberikan bantuan kepada keluarga yang terdampak, termasuk kompensasi finansial serta pendampingan hukum.