Setapak Langkah – 22 Agustus 2026 | Menanggapi tekanan internasional untuk mengurangi emisi karbon, gas bumi dipandang sebagai energi perantara yang dapat menjembatani transisi dari sumber energi fosil ke energi terbarukan. Dalam sebuah pernyataan resmi, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat menekankan pentingnya peran gas bumi dalam menjaga kelancaran pasokan energi sambil mempercepat pergeseran menuju energi bersih.
Berikut beberapa manfaat utama gas bumi dalam konteks transisi energi:
- Menjaga kestabilan pasokan listrik selama fase peralihan.
- Memberikan waktu bagi pengembangan infrastruktur energi terbarukan, seperti pembangkit tenaga surya dan angin.
- Mengurangi emisi CO₂ secara signifikan dibandingkan penggunaan batu bara.
- Mendukung pencapaian target bauran energi nasional yang lebih berkelanjutan.
Data resmi menunjukkan peningkatan peran gas bumi dalam bauran energi nasional:
| Tahun | Persentase Gas Bumi dalam Campuran Energi Nasional |
|---|---|
| 2022 | 15% |
| 2025 (target) | 20% |
| 2030 (target) | 25% |
Pemerintah telah merencanakan pembangunan infrastruktur pipa gas baru, peningkatan kapasitas regasifikasi, serta insentif bagi industri yang beralih ke gas sebagai bahan bakar utama. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menarik investasi domestik dan asing, sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Namun, Wakil Ketua MPR juga mengingatkan bahwa peran gas bumi harus dikelola dengan hati-hati. Penggunaan gas harus tetap terikat pada kebijakan jangka panjang yang mengarah pada pengurangan total penggunaan bahan fosil dan peningkatan porsi energi terbarukan secara progresif.
Dengan menempatkan gas bumi sebagai komponen transisi, Indonesia berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan energi saat ini dan komitmen global untuk mengatasi perubahan iklim.